Dari Nepal ke Prancis: Riuh Jalanan, Satire Politik, dan Cermin untuk Indonesia

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Minggu, 14 September 2025 | 09:25 WIB
Satire “Habis Nepal Terbitlah Prancis” di Dunia Maya (YouTube @times_news_world)
Satire “Habis Nepal Terbitlah Prancis” di Dunia Maya (YouTube @times_news_world)

Tuntutan “Macron mundur” pun menggema, bukan sekadar simbolik, tetapi juga desakan nyata agar presiden bertanggung jawab.

Baca Juga: Nusantara Lima: Roket Mimpi Anak Negeri yang Terbang dari Florida Hingga Papua

Kesamaan dan Perbedaan Nepal-Prancis

Dua peristiwa ini sama-sama menunjukkan wajah rakyat yang menolak diabaikan. Namun, rohnya berbeda.

Nepal: krisis legitimasi politik akibat korupsi, represi, dan hilangnya ruang kebebasan.

Prancis: krisis sosial-ekonomi akibat kebijakan penghematan yang dianggap tidak adil.

Dari sini jelas, meski sama-sama berupa perlawanan rakyat, konteks dan tujuannya tidak identik.

Pelajaran untuk Indonesia: Jangan Main-main dengan Rasa Keadilan

Ada pesan penting yang bisa dipetik Indonesia dari Nepal dan Prancis.

1. Kebebasan berekspresi harus dijaga. Membungkam suara rakyat, apalagi di era digital, hanya akan menyalakan api perlawanan.

2. Korupsi dan nepotisme harus dilawan. Sekali kepercayaan publik runtuh, sangat sulit membangunnya kembali.

3. Kebijakan ekonomi harus peka pada rakyat kecil. Beban hidup yang berat tak boleh ditambah dengan kebijakan yang tak adil.

4. Legitimasi politik diuji setiap hari. Tidak cukup hanya lewat pemilu; keadilan sosial harus dirasakan nyata.

Satire yang Jadi Alarm

Ungkapan “Habis Nepal Terbitlah Prancis” memang terlalu sederhana sebagai analisis, tapi kuat sebagai peringatan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X