Trump Perpanjang Gencatan Perang Dagang dengan China 90 Hari, Tarik-Ulur Tarif Berlanjut hingga November 2025

photo author
Achmad Zainur Roziqin, TitikTemu.co
- Selasa, 12 Agustus 2025 | 21:46 WIB
Presiden China, Xi Jinping (kiri) dan Presiden AS, Donald Trump (kanan). (Instagram.com / @xi_jinping - @realdonaldtrump)
Presiden China, Xi Jinping (kiri) dan Presiden AS, Donald Trump (kanan). (Instagram.com / @xi_jinping - @realdonaldtrump)

TITIKTEMU.CO - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi memperpanjang gencatan senjata dalam perang dagang dengan China selama 90 hari, hingga 10 November 2025.

Keputusan ini diumumkan pada Senin, 11 Agustus 2025, hanya beberapa jam sebelum batas waktu Selasa, 12 Agustus 2025, ketika tarif baru seharusnya diberlakukan.

Trump menjelaskan bahwa perpanjangan ini dilakukan karena AS dan China masih melakukan negosiasi untuk mengatasi ketidakseimbangan perdagangan serta isu keamanan nasional dan ekonomi. Menurutnya, China telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam memperbaiki perjanjian dagang yang selama ini dianggap merugikan AS.

Baca Juga: Jadi Perhatian Dunia, Media Global Soroti Langkah RI Wujudkan Ambisi Pusat AI di Asia Tenggara

Menanggapi langkah tersebut, Pemerintah China pada Selasa, 12 Agustus 2025, mengumumkan penangguhan sebagian besar tarif balasan terhadap AS selama 90 hari.

Pernyataan resmi yang dirilis melalui Kedutaan Besar China di Washington menyebutkan bahwa kesepakatan ini mengacu pada hasil pertemuan di Stockholm. Kedua negara berkomitmen untuk terus mendorong penghentian tarif demi memperkuat kerja sama dan saling pengertian.

Sebagai bagian dari kesepakatan, AS juga mempertimbangkan pelonggaran sebagian pembatasan ekspor semikonduktor—salah satu tuntutan utama China.

Financial Times melaporkan bahwa Trump mengizinkan produsen chip Nvidia dan AMD mengekspor chip canggih ke China dengan imbalan biaya tertentu. Namun, kebijakan ini memicu kekhawatiran di kalangan pejabat AS yang menekankan pentingnya keamanan nasional.

Baca Juga: Penjualan Mobil Juli 2025 Meroket, Daftar 5 Model Terlaris di Pasar Otomotif Indonesia

Tidak hanya itu, ada pembahasan mengenai kemungkinan pertemuan puncak antara Trump dan Presiden China Xi Jinping, meskipun belum ada kesepakatan final.

Gencatan ini terjadi di tengah keberhasilan Trump menurunkan tarif perdagangan dengan Uni Eropa dan Jepang. Namun, pembicaraan dengan India dan Brasil tidak menemui titik temu, sehingga kedua negara tersebut justru terkena tarif tinggi.

Meski ada penangguhan, AS tetap memberlakukan tarif tambahan 30 persen untuk barang impor dari China, sehingga rata-rata tarif berada di atas 50 persen. Sementara itu, China menerapkan tarif 10 persen untuk semua barang dari AS, plus tarif 10–15 persen untuk komoditas strategis seperti kedelai dan energi.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Achmad Zainur Roziqin

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X