QS sendiri memasukkan Employment Outcomes sebagai indikator yang mengukur rekam jejak universitas dalam menghasilkan lulusan yang memiliki daya saing dan memberikan dampak di bidangnya.
Prestise Pendidikan Jangan Sampai Membuat Fresh Graduate Terlena
Bagi mahasiswa dan fresh graduate, jebakan terbesar bukan memilih kampus terkenal. Masalahnya muncul ketika seseorang menganggap nama kampus sudah cukup untuk membawa kariernya berjalan sendiri.
Baca Juga: Prabowo Turun Langsung ke Lokasi Karhutla Kubu Raya, Pastikan Penanganan Berjalan Cepat
Padahal setelah wisuda, dunia kerja tidak berhenti bertanya, “Lulusan mana?”
Pertanyaan berikutnya biasanya jauh lebih konkret: bisa mengerjakan apa, pernah membuat apa, bagaimana cara menyelesaikan masalah, dan seberapa cepat belajar?
Karena itu, mahasiswa sebaiknya mulai membangun modal karier sebelum toga disimpan di lemari. Magang, organisasi, proyek pribadi, sertifikasi yang relevan, kemampuan digital, komunikasi, hingga portofolio dapat menjadi bukti bahwa seseorang bukan hanya punya gelar.
Baca Juga: Desil DTSEN Berubah? Jangan Panik, BPS DIY Buka Jalan untuk Perbaikan Data
Kampus Boleh Jadi Pintu Masuk, Tapi Bukan Garis Finish
Prestise pendidikan tetap memiliki nilai. Kampus ternama bisa memberikan lingkungan belajar, jaringan alumni, dan akses kesempatan yang menarik. Namun, keunggulan tersebut sebaiknya dipandang sebagai modal awal, bukan tiket otomatis menuju kesuksesan.
Pada akhirnya, karier adalah perjalanan panjang. Nama almamater mungkin membantu membuka pintu pertama, tetapi kemampuan, pengalaman, sikap profesional, dan kemauan belajar yang menentukan apakah seseorang mampu bertahan dan berkembang setelah pintu itu terbuka.
Jadi, untuk mahasiswa dan fresh graduate, jangan terlalu sibuk menghitung seberapa bergengsi nama kampus di CV. Mulailah menghitung berapa banyak kemampuan yang benar-benar bisa ditawarkan kepada dunia kerja.***