Yang perlu dikritisi adalah anggapan bahwa semua orang memiliki kondisi ekonomi yang sama.
Decluttering sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan. Buang barang yang benar-benar rusak dan tidak bisa diperbaiki, tetapi jangan merasa bersalah jika masih menyimpan barang yang berpotensi digunakan kembali.
Rumah yang baik bukan rumah yang paling mirip katalog interior, melainkan rumah yang mendukung kehidupan penghuninya.
Pada akhirnya, minimalisme bukan soal memiliki sesedikit mungkin barang. Yang lebih penting adalah memiliki barang yang benar-benar membantu menjalani hidup sesuai kemampuan dan kebutuhan. Ketika realitas ekonomi diperhitungkan, kita akan memahami bahwa decluttering bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan pilihan yang dipengaruhi oleh kesempatan dan kondisi sosial.***