TITIKTEMU.CO-Di media sosial, decluttering sering dipromosikan sebagai jalan menuju hidup yang lebih tenang. Lemari yang rapi, meja kerja tanpa barang, hingga rumah dengan dekorasi serba minimalis menjadi simbol gaya hidup modern. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang dibahas: bagaimana jika seseorang tidak punya kemewahan untuk membuang barang?
Di sinilah muncul kritik bahwa decluttering bukan sekadar kebiasaan merapikan rumah, tetapi juga sebuah privilege. Bagi banyak keluarga berpenghasilan rendah, menyimpan barang lama bukan soal sulit move on, melainkan strategi bertahan hidup.
Decluttering Bekerja Berbeda untuk Setiap Kelas Sosial
Konsep decluttering menjadi populer berkat berbagai buku dan konten lifestyle yang mendorong orang hanya menyimpan barang yang benar-benar berguna. Dalam praktiknya, ide ini memang membantu mengurangi stres akibat rumah yang berantakan.
Baca Juga: Mencari Makna Hidup Itu Jebakan, Ini yang Seharusnya Kamu Cari
Namun, kondisi ekonomi membuat pengalaman setiap orang berbeda.
Seseorang dengan penghasilan stabil mungkin tidak ragu membuang blender lama karena bisa membeli yang baru kapan saja. Sebaliknya, keluarga dengan anggaran terbatas cenderung menyimpan barang rusak, kardus bekas, hingga pakaian lama karena semuanya berpotensi dipakai lagi suatu hari nanti.
Barang yang terlihat "tidak berguna" bagi satu orang bisa menjadi cadangan penting bagi orang lain.
Baca Juga: Download Super Bear Adventure Beta Uptodown 2026: Cara Mudah dan Daftar Versi Terbaru
Kenapa Orang Berpenghasilan Rendah Sulit Minimalis?
Ada beberapa alasan mengapa gaya hidup minimalis tidak selalu realistis.
Barang Lama Adalah Bentuk Asuransi
Banyak orang menyimpan kabel bekas, stopkontak lama, atau toples plastik karena membeli penggantinya membutuhkan biaya. Saat sesuatu rusak, barang simpanan itulah yang sering menjadi penyelamat.
Baca Juga: Samsung Glasses Resmi Meluncur! Kacamata Pintar Ini Ternyata Bisa Gantikan Banyak Fungsi HP