gaya-hidup

Mengenal Kopi Luwak, Kopi Termahal di Dunia, Ini Fakta-faktanya

Jumat, 29 Agustus 2025 | 08:35 WIB
Mengenal Kopi Luwak, Kopi Termahal di Dunia, Ini Fakta-faktanya. (Instagram @tasteatlas )

TITIKTEMU.CO – Ada banyak jenis kopi di pasaran. Salah satu yang fenomenal adalah kopi luwak. Bukan hanya karena citarasanya yang khas, tapi juga harganya yang mahal.

Diolah dengan tradisi lokal di Indonesia, kopi ini berhasil menembus pasar dunia. Kopi Luwak juga dikenal dengan istilah lain sebagai weasel coffee atau civet coffee.

Harganya? Jangan kaget, kopi luwak bisa terjual hingga US$700 atau Rp10 juta per kilogram. Di Jakarta, satu kafe menjual mulai Rp200 ribu per cangkir. Bandingkan dengan kopi biasa yang hanya 15 ribu-Rp25.000.

Baca Juga: Mengenal Kopi Decaf, Ngopi Tanpa Bikin Jantung Deg-degan, Benar Bebas Kafein? 

Asal Mula Kopi Luwak

Seperti namanya, kopi luwak dihasilkan dari biji kopi yang sudah dimakan hewan luwak. Hewan ini biasanya memilih buah kopi yang benar-benar sudah matang, manis, dan berkualitas baik.

“Ada istilah petik merah, tapi kita tidak tahu kopi itu matang kemarin atau hari ini. Luwak hanya makan kopi yang kondisinya paling baik hari itu," kata Ketua Departemen Speciality & Industry Badan Pengurus Pusar Asosiasi Eksportir dan Insutri Kopi (BPP AEKI) Moelyono Soesilo.

Setelah dimakan, daging buah kopi akan dicerna, tetapi bijinya tetap utuh dan keluar bersama kotoran. Nah, biji-biji kopi inilah yang kemudian diolah menjadi minuman kopi yang super nikmat.

Yang membuat kopi ini spesial adalah proses fermentasi alami yang terjadi saat biji kopi di pencernaan luwak. Enzim dalam perut hewan ini memecah protein yang ada dalam biji kopi.

Padahal, protein adalah salah satu penyebab utama rasa pahit dalam kopi. Karena itu, kopi luwak biasanya punya rasa yang lebih halus, lembut, dan tidak terlalu pahit.

Baca Juga: Jangan Terkecoh, Ini Perbedaan Kopi Arabika dan Robusta

Sejak Zaman Kolonial

Asal mula kopi luwak tak lepas dari sejarah pembudidayaan tanaman kopi di Indonesia di awal abad ke-18 . Dengan sistem Tanam Paksa, Belanda melarang pekerja memetik buah kopi untuk konsumsi pribadi.

Tanpa sengaja, para pekerja perkebunan menemukan ada sejenis musang yang gemar memakan buah kopi. Namun, hanya daging buahnya yang tercerna, sedangkan kulit ari dan biji kopi tetap utuh.

Halaman:

Tags

Terkini

Lirik Yalal Waton Latin, Arab, Arti, dan Penciptanya

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:24 WIB