Kopi Robusta punya karakter berbeda dengan Arabika. Jenis ini lebih mudah dibudidayakan karena tidak memerlukan dataran tinggi. Robusta bisa tumbuh subur di ketinggian 400–800 mdpl dengan suhu sekitar 21–24°C.
Pohon Robusta lebih besar dan tinggi, bisa mencapai 4–6 meter. Daunnya lebih tipis dan bergerigi, sementara bijinya berbentuk bulat dengan belahan lurus di bagian tengah.
Kandungan kafein Robusta sekitar 2–2,7%, hampir dua kali lipat Arabika. Inilah yang membuat cita rasa Robusta lebih pahit, tebal, dan pekat. Selain itu, kadar gulanya juga rendah sehingga karakter pahitnya lebih kuat.
Soal aroma, Robusta cenderung earthy, woody (kayu), dan kadang cokelat. Karena itulah, kopi ini sering dipakai sebagai bahan utama kopi instan, campuran espresso, atau es kopi susu.
Selain lebih murah, Robusta juga lebih tahan terhadap hama dan penyakit tanaman. Hal ini membuat banyak petani memilih Robusta karena lebih menguntungkan dari sisi produksi.
Baca Juga: Dear Milenial, Ini Beda antara Espresso, Americano, dan Long Black
Kenapa Banyak Orang Pilih Arabika?
Bagi para pecinta kopi, Arabika dianggap sebagai kopi dengan kualitas terbaik. Rasanya lebih halus, aromanya wangi, dan memberi pengalaman minum kopi yang lebih elegan.
Itulah mengapa Arabika lebih sering ditemukan di coffee shop, terutama bagi mereka yang suka mencoba metode seduh manual. Harganya memang lebih mahal, tapi sebanding dengan cita rasa yang ditawarkan.
Kelebihan Robusta
Meski kalah populer, Robusta tetap punya daya tarik tersendiri. Tingginya kandungan kafein membuat kopi ini lebih nendang bagi mereka yang butuh energi tambahan.
Harga yang lebih terjangkau membuat Robusta lebih mudah dinikmati semua kalangan. Bahkan, sekitar 70% produksi kopi Indonesia didominasi Robusta, terutama untuk kebutuhan industri kopi instan dan sachet.
Baca Juga: 6 Jenis Kopi Aman untuk Penderita Asam Lambung, Nikmati Secangkir Kopi Tanpa Khawatir
Pilih Arabika atau Robusta?