gaya-hidup

Kontroversi Booking Lahan Camp di Gunung Merbabu dan Sindoro, Apa Kata Pendaki?

Senin, 2 Juni 2025 | 19:15 WIB
Booking Lahan Camp di Gunung Merbabu dan Sindoro, ( Shelter Jelajah)

TITIKTEMU.CO - Mendaki gunung selalu menjadi aktivitas favorit banyak orang untuk menikmati keindahan alam sekaligus menantang diri sendiri. Namun, belakangan ini, dunia pendakian di Indonesia diramaikan oleh isu yang memicu perdebatan, yaitu praktik "booking lahan camp".

Fenomena ini mencuat setelah video dari akun TikTok @siputgunung.id viral, memperlihatkan pendaki yang kehabisan tempat untuk mendirikan tenda di Gunung Merbabu karena area camping disebut telah "dibooking" oleh rombongan tertentu.

Kasus serupa juga terjadi di Gunung Sindoro, tepatnya di Pos 3 jalur Kledung. Pendaki bahkan mengaku dipaksa membongkar tenda mereka karena lahan tersebut diklaim sudah dipesan oleh rombongan open trip.

Kejadian ini memantik reaksi keras dari warganet yang menilai tindakan tersebut tidak etis dan bertentangan dengan semangat kebersamaan dalam mendaki.

Baca Juga: Ladang Ganja di Kaki Gunung Kerinci? Cek Fakta Lokasi dan Upaya Penanganan

Apa Itu Booking Lahan Camp di Gunung?

Praktik booking lahan camp menjadi sorotan setelah beberapa pendaki melaporkan bahwa area camping di gunung tertentu telah "dipesan" oleh rombongan tertentu, meskipun tidak ada sistem resmi yang mendukung hal tersebut.

Para pendaki yang datang lebih awal merasa dirugikan karena mereka tidak bisa menggunakan area yang seharusnya terbuka untuk umum.

Di Gunung Merbabu, video viral menunjukkan pendaki yang kecewa karena harus mencari tempat lain untuk mendirikan tenda, meskipun mereka sudah tiba lebih awal.

Hal serupa terjadi di Gunung Sindoro, di mana pendaki mengeluhkan tindakan rombongan open trip yang mengusir mereka dari area camping.

Baca Juga: 5 Jalur Pendakian Gunung Lawu Tersepi dan Paling Ramai yang Wajib Dicoba, Mana Favoritmu?

Respons Balai Taman Nasional Gunung Merbabu

Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) mengklarifikasi bahwa tidak ada sistem booking lahan camp yang berlaku di kawasan tersebut.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha BTNGMb, Nurpana Sulaksono, menegaskan bahwa area camping bersifat terbuka untuk semua pendaki berdasarkan prinsip "siapa cepat, dia dapat".

Nurpana juga menjelaskan bahwa kepadatan area camping sering terjadi pada masa liburan panjang, ketika jumlah pendaki meningkat secara signifikan.

Sistem booking online yang diterapkan hanya berlaku untuk kuota pendakian, bukan untuk area camping.

Halaman:

Tags

Terkini

Lirik Yalal Waton Latin, Arab, Arti, dan Penciptanya

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:24 WIB