Ramai Fenomena Strawberry dikaitkan dengan Gen Z, Benarkah Parenting Strawberry Penyebabnya?

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Kamis, 21 November 2024 | 17:35 WIB
Fenomena Generasi Strawberry: Benarkah Muncul Akibat Parenting Strawberry? (@medcom_id)
Fenomena Generasi Strawberry: Benarkah Muncul Akibat Parenting Strawberry? (@medcom_id)

TITIKTEMU.CO-Fenomena dan istilah baru sering muncul berkaitan dengan gen Z atau generasi kelahiran tahun 1997-2012.

Sering diidentikan dengan kelemahan mental dan kreativitas yang tinggi.
Setelah ramai fenomena Generasi sandwich kini ramai istilah generasi strawberry yang diidentikan juga dengan gen Z.

Generasi strawberry, sebuah istilah yang belakangan ini menjadi topik hangat, mengacu pada generasi yang dianggap "cantik di luar tetapi rapuh di dalam."

Layaknya buah strawberry yang menarik namun mudah rusak, generasi ini dikaitkan dengan ketidakmampuan menghadapi tekanan atau tantangan. Namun, apa sebenarnya penyebab munculnya generasi strawberry?

Ada juga pihak yang menuding parenting strawberry sebagai biangnya. 

Baca Juga: Gen Z Tidak Lemah! Tetapi Generasi yang Harus Hadapi Tantangan Situasi Ekonomi Terberat

Apa itu Generasi Strawberry?

Generasi strawberry biasanya merujuk pada kelompok muda yang dianggap kurang tahan banting saat menghadapi realitas kehidupan. Mereka cenderung: 

  • Mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. 
    Rentan stres atau overthinking. 
  • Mengutamakan kenyamanan dibandingkan kerja keras. 
  • Istilah ini pertama kali populer di Taiwan pada 1990-an, seiring perubahan pola asuh dan meningkatnya standar hidup.

Generasi ini sering distereotipkan sebagai kurang mandiri, meski kenyataannya tidak semua anak muda tergolong demikian. 

Baca Juga: Gaya Hidup Cottagecore Mulai Dilirik Gen Z, Bandingkan dengan Gaya Hidup Metropolitan Mana yang Lebih Menarik?

Apa itu Parenting Strawberry
Parenting strawberry adalah pola asuh yang terlalu melindungi anak dari kesulitan. Orang tua yang menerapkan pola ini biasanya: 

  • Menghindarkan anak dari risiko dan kesalahan dengan terlalu banyak intervensi. 
  • Membiasakan anak hidup nyaman tanpa tantangan. 
  • Memberikan penghargaan berlebihan tanpa mengukur pencapaian nyata. 

Pola asuh ini sering dilakukan dengan niat baik, yakni memastikan anak tidak merasa kecewa atau gagal.

Namun, efek jangka panjangnya bisa membuat anak kurang siap menghadapi dunia nyata. 

Baca Juga: Panduan Lengkap SKB CPNS 2024 Kemenag: Jadwal, Tahapan, Bobot Nilai, dan Tips Sukses

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Lirik Yalal Waton Latin, Arab, Arti, dan Penciptanya

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:24 WIB
X