Malam Idul Fitri Bukan Berarti Selesai Beribadah , Justru Ini Yang Harus Diamalkan

photo author
AB Soleh, TitikTemu.co
- Selasa, 9 April 2024 | 19:00 WIB
Ilustrasi beribadah (Pixabay/ Adelbayoumi )
Ilustrasi beribadah (Pixabay/ Adelbayoumi )

TITIKTEMU.CO, Malam Idul Fitri, bukan sekedar malam kemenangan tapi  kita dianjurkan untuk menghidupinya dengan memperbanyak ibadah. Hal ini secara jelas  diterangkan dalam hadits Nabi, atsar sahabat, dan petunjuk para ulama.

Di antara petunjuk itu adalah apa yang disebutkan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jilani. Beliau mengatakan bahwa di malam hari raya, Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengosongkan dirinya dari segala kegiatan untuk khusyu’ beribadah. Keterangan ini sebagaimana ditegaskan dalam Tadzkir al-Nas sebagai berikut:  

قَالَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ذَكَرَ الشَّيْخُ عَبْدُ الْقَادِرِ الْجِيْلَانِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي الْغُنْيَةِ أَنَّ سَيِّدَنَا الْإِمَامَ عَلِيَّ بْنَ أَبِيْ طَالِبٍ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ كَانَ يُفَرِّغُ نَفْسَهُ لِلْعِبَادَةِ فِيْ أَرْبَعِ لَيَالٍ فِي السَّنَةِ، وَهِيَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبَ وَلَيْلَتَا الْعِيْدَيْنِ وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ   “

Tuanku (Habib Ahmad bin Hasan al-‘Athas) berkata, Syekh Abdul Qadir al-Jilani menyebutkan dalam kitab al-Ghun-yah, bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengosongkan dirinya untuk fokus beribadah pada empat malam dalam satu tahun. Awwal bulan Rajab, dua malam hari raya (Idul Fitri dan Idul Adlha) dan malam Nishfu Sya’ban”. (Sayyid Ahmad bin Hasan al-‘Athas, Tadzkir al-Nas, hal.187, Maktabah al-Makruf, Huraidlah, tanpa keterangan cetak).

Baca Juga: Doa Agar Kita Tenang Sepanjang Hari 

Masih dalam kitab yang sama, salah satu doa-doa yang dipanjatkan Sayyidina Ali saat menghidupi malam hari raya, awal Rajab, dan Nishfu Sya’ban adalah sebagai berikut:  

اللّٰهُــمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّـدٍ وَاٰلِهِ مَصَابِيْحِ الْحِكْمَةِ وَمَوَالِيْ النِّعْمَةِ، وَمَعَادِنِ الْعِصْمَةِ، وَاعْصِمْنِيْ بِهِمْ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ. وَلَا تَأْخُذْنِيْ عَلَى غِرَّةٍ وَلَا عَلَى غَفْلَةٍ، وَلَا تَجْعَلْ عَوَاقِبَ أَمْرِيْ حَسْرَةً وَنَدَامَةً، وَارْضَ عَنِّيْ، فَإِنَّ مَغْفِرَتَكَ لِلظَّالِمِيْنَ، وَأَنَا مِنَ الظَّالِمِيْنَ، اللّٰهُــمَّ اغْفِرْ لِيْ مَا لَا يَضُرُّكَ، وَأَعْطِنِيْ مَا لَا يَنْفَعُكَ، فَإِنَّكَ الْوَاسِعَةُ رَحْمَتُهُ، اَلْبَدِيْعَةُ حِكْمَتُهُ، فَأَعْطِنِي السَّعَةَ وَالدَّعَةَ، وَالْأَمْنَ وَالصِّحَّةَ وَالشُّكْرَ وَالْمُعَافَاةَ وَالتَّقْوَى، وَأَفْرِغِ الصَّبْرَ وَالصِّدْقَ عَلَيَّ، وَعَلَى أَوْلِيَائِيْ فِيْكَ، وَأَعْطِنِي الْيُسْرَ، وَلَا تَجْعَلْ مَعَهُ الْعُسْرَ، وَأَعِمَّ بِذَلِكَ أَهْلِيْ وَوَلَدِيْ وَإِخْوَانِيْ فِيْكَ، وَمَنْ وَلَدَنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ.  

Allâhumma shalli ‘alâ Muḫammadin wa âlihi, mashâbiḫil ḫikmati wa mawâlin ni’amti, wa ma‘âdinil ‘ishmati, wa‘shimnî bihim min kulli sû’in, wa lâ ta’khudznî ‘alâ ghirratin wa lâ ‘ala ghaflatin, wa lâ taj’al ‘awâqiba amri ḫasratan wa nadâmatan, wardlâ ‘annî, fa-inna maghfirataka lidh-dhâlimîn, wa anâ minadh dhâlimina, allâhumma ighfirl lî mâ lâ yadlurruka, wa a‘thinî ma la yanfa‘uka, fainnaka al-wâsi’ata raḫmatuhu, al-badî’ata ḫikmatuhu, fa a‘thinî as-sa‘ata wad da‘ata, wal amna wash shihhata wasy syukra wal mu‘âfata wattaqwâ, wa afrigh ash-shabra wash shidqa ‘alayya, wa ‘alâ auliyâi fîka, wa a‘thinî al-yusra, walâ taj’al ma’ahu al-‘usrâ, wa a’imma bidzâlika ahli wa waladî wa ikhwâni fîka, wa man waladanî minal muslimîna wal muslimâti wal mu’minîna wal mu’minâti. 

Artinya:   “Ya Allah limpahkan rahmat ta’zhim-Mu kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, lampu-lampu hikmah, tuan-tuan nikmat, sumber-sumber penjagaan. Jagalah aku dari segala keburukan lantaran mereka, janganlah engkau hukum aku atas kelengahan dan kelalaian, janganlah engkau jadikan akhir urusanku suatu kerugian dan penyesalan, ridhailah aku, sesungguhnya ampunan-Mu untuk orang-orang zalim dan aku termasuk dari mereka, ya Allah ampunilah bagiku dosa yang tidak merugikan-Mu, berilah aku anugerah yang tidak memberi manfaat kepada-Mu, sesungguhnya rahmat-Mu luas, hikmah-Mu indah, berilah aku kelapangan, ketenangan, keamanan, kesehatan, syukur, perlindungan (dari segala penyakit) dan ketakwaan. Tuangkanlah kesabaran dan kejujuran kepadaku, kepada kekasih-kekasihku karena-Mu, berilah aku kemudahan dan janganlah jadikan bersamanya kesulitan, liputilah dengan karunia-karunia tersebut kepada keluargaku, anaku, saudar-saudaraku karena-Mu dan para orang tua yang melahirkanku dari kaum muslimin muslimat, serta kaum mukiminin mukminat.”

Baca Juga: Doa Memohon Ampunan Setiap Habis Sholat, Menenangkan Diri Kita Lho

Petunjuk dari Syekh Sayyid Ahmad bin Hasan al-‘Athas, doa tersebut juga baik dibaca setelah membaca takbir hari raya dan takbir hari-hari Tasyriq.

Murid dari Habib Ahmad bin Hasan al-‘Athas, yaitu Habib Abu Bakr al-‘Athas mengatakan:   وَقَدِ اسْتَحْسَنَ سَيِّدِيْ رَضِيَ اللهُ قِرَاءَةَ هَذَا الُّدعَاءِ الْمَذْكُوْرِ بَعْدَ تَكْبِيْرِ الْعِيْدَيْنِ وَبَعْدَ تَكْبِيْرِ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ  

“Tuanku (Syekh Sayyid Ahmad bin Hasan al-‘Athas) menganggap baik membaca doa tersebut setelah takbir dua hari raya dan takbir hari-hari tasyriq”.  

Demikianlah di antara doa yang dianjurkan saat malam hari raya. Semoga kita bisa menghidupi hari raya dengan khidmat dan khusyu’.  

Dikutip dari Sayyid Ahmad bin Hasan al-‘Athas, Tadzkir al-Nas, Maktabah al-Makruf, Huraidlah, tanpa keterangan tahun cetak, halaman 187 dan 188

Sumber: https://islam.nu.or.id/doa/doa-sayyidina-ali-saat-malam-hari-raya-awXN9



Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: AB Soleh

Sumber: Youtube PhilstarsNews

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Lirik Yalal Waton Latin, Arab, Arti, dan Penciptanya

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:24 WIB
X