Keempat, saya dibuat penasaran mengenai siapa yang mencuri ari-ari Jeng Yah. Sampai akhir cerita saya tidak menemukan pelakunya. Tidak dibahas lebih lanjut sehingga saya hanya mampu menerka-nerka pelaku pencuri ari-ari berdasarkan akhir cerita nasib keluarga Jeng Yah.
Kelima, di awal kisah sampai pertengahan saya menikmati kisahnya tetapi ketika menjelang akhir terkesan harus cepat selesai. Padahal sebelumnya ritmenya terjaga, runtut menjadi sedikit berantakan, seperti ada bagian yang sengaja dipotong.
Meski demikian saya cukup dibuat terkejut dengan ending yang sedikit meleset dari tebakan saya. Penasaran dong, kuy segera baca novelnya!
Terlepas dari ketidaksempurnaannya, novel ini memberikan kesan tersendiri buat saya. Tidak hanya mengisahkan kasih yang tak sampai, kejamnya dunia bisnis, dan soal harga diri, melainkan juga sebuah novel yang dalam kapasitasnya berusaha menyampaikan sejarah rokok kretek Indonesia, baik dari segi sejarah maupun budayanya. Bagi kamu yang menyukai historical fiction, buku ini patut kamu baca. Buku yang sarat pesan, makna, konflik, dan ilmu yang diracik dengan amat menarik. Selamat membaca dan menghisap sedapnya aroma tembakau!
Baca Juga: LEG 1 FINAL PIALA PRESIDEN 2022: Borneo FC Boyong 24 Pemain ke Malang
*Fyi, Saya baca e-novel ini di aplikasi @ipusnas yang dikeluarkan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Gratis, hanya modal kuota untuk download. Lumayan menghemat tabungan dan yang paling penting e-book di dalamnya ini asli, bukan bajakan. #salamliterasi.***