“Beda ya Mas!” Roemaisa berkomentar setelah dua isapan.
“Itu karena ada sausnya.” Idroes Moeria tersenyum.
“Ambune kaya daun jeruk.” (Aromanya seperti daun jeruk)
Lalu, bapak mertuanya ikut berkomentar, “Lah, iki kaya jambu kluthuk.” (Nah, ini seperti jambu biji) (hlm 97)
“Gurih itu rasa puas yang membuat orang lain merasa cukup dengan yang itu saja, tak perlu mencoba yang lain, sehingga nantinya akan kembali lagi untuk mencicipi rasa gurih itu.”
“Teh atau kopi memang teman sejalan yang setia dipadukan dengan kretek. Tetapi untuk menentukan jodoh yang tepat, apakah teh atau kopi yang harus disruput, maka harus melihat matahari. Jika matahari di Timur, maka kopi lebih tepat dipadukan dengan kretek. Tetapi jika matahari di Barat, tehlah yang berjodoh dengan kretek.” (hlm 128)
“Matamu boleh saja buta. Tetapi, hidung dan indra perabamu harus bekerjasama.” (hlm 233)
“Korek memang sahabat rokok yang sering menghilang. Ia pergi kemana-mana, bertualang. Seolah ia adalah preman pemberani yang bisa mem-bully siapa saja dengan apinya.” (hlm 246)
Baca Juga: Peresensi Ini Beri Bintang 5 untuk Novel “Gadis Kretek” yang Sarat Aroma Cinta
Dari berbagai kelebihan yang dimiliki novel Gadis Kretek kita menjadi tahu bahwa novel ini menyinggung banyak perkara. Mulai dari hubungan keluarga, kegigihan, kesetiaan seorang wanita, ego seorang laki-laki, dan usaha untuk terus memperbaiki diri.
Adapun beberapa hal yang menjadi kekurangan dalam novel ini. Pertama, kisah Gadis Kretek yang menjadi judul dalam novel ini porsinya kurang banyak, kurang tergali. Ketika membaca novel ini saya tidak lantas mengetahui siapa Jeng Yah.
Saya menunggu dengan sabar kapan tokoh Jeng Yah ini muncul. Lebih kurang separuh halaman didominasi oleh kisah perjuangan dan persaingan generasi pertama, Idroes Moeria (ayah Jeng Yah) dengan Soedjagad (mertua Pak Soeraja) dalam memulai dan membangun kerajaan bisnis kretek mereka, sementara Jeng Yah berasal dari generasi kedua.
Baca Juga: Haji 2022 : Ibadah Haji Usai, 15 Juli Jamaah Haji Mulai Pulang, Penjemputan Mesti Patuhi Prokes
Kedua, di dalam novel ini saya masih menemukan beberapa salah ketik (typo), penulisan nama tokoh yang tertukar atau tidak sesuai, dan ketidakkonsistenan dalam menggunakan ejaan lama. Oleh karena novel yang saya baca adalah cetakan pertama pada tahun 2012, saya berharap kesalahan seperti itu tidak ditemukan dalam cetakan terbaru (2019).
Ketiga, saya merasa terganggu dengan sebutan nama Kota M. Pasalnya nama-nama Kota lain ditulis dengan gamblang, seperti Kota Kudus, Magelang, Jakarta, Soerabaya. Sementara Kota M tetap menjadi misteri hingga akhir cerita. Penulis hanya memberikan clue letak kota M berada di antara Magelang dan Jogjakarta, serta hanya memiliki satu jalan utama. Saya pernah membaca salah satu reviewer novel ini menebak bahwa Kota M adalah Kota Muntilan. Terlepas benar atau tidaknya, saya mengucapkan terimakasih, setidaknya sedikit tercerahkan.