Baca Juga: Ramai-ramai Tanam Nangka Demi Gamelan & Nasib UMKM Gudeg Yogyakarta
Sepulang menonton, dirinya terpacu untuk belajar dan berlatih mendalang. Minat mendalami wayang berlanjut saat dirinya masuk Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Yogyakarta, Jurusan Pedalangan setelah lulus SMP.
Gaya pagelaran Ki Manteb Sudarsono memang saat itu benar-benar digilai Seno. Setiap ada pementasan wayang kulit di daerah Yogyakarta dengan dalang Ki Manteb, Seno tak melewatkan kesempatan menonton.
Momentun penting lain yang mewarnai karirnya adalah saat dirinya memberanikan diri mendalang perdana, atas desakan pamannya yang bernama Ki Supardi.
Baca Juga: Bikin Meleleh, Ini 7 Kedai Es Krim di Jogja dengan Sajian Menghanyutkan
“Paman saya menyampaikan, Bapakmu (Ki Suparman-red) saat ini sudah sakit. Kalau suatu saat meninggal, siapa yang akan meneruskan, garis keturunan dalang di keluarga?” ucapnya menirukan desakan sang paman.
Atas peran dan bimbingan pamannya, Seno tanpa memberi tahu ayahnya, memberanikan tampil saat ada kesempatan mendalang di Mrican Gejayan Yogyakarta.
Saat pentas perdana itu, awalnya Seno membawakan lakon dan suluk dengan lancar. Dia kemudian terkejut saat menengok ke belakang ternyata Ki Suparman ada di tengan pemain karawaitan memainkan rebab.
Baca Juga: Liburan ke Jogja? Ini 7 Kuliner di Kawasan Malioboro yang Super Duper
Hal itu membuat dia grogi dan konsentrasi mendalang buyar. Seno merasa tak nyaman karena kuatir pementasannya banyak salah lalu akan dimarahi ayahnya. Pertunjukan kembali lancar saat Ki Suparman pergi meninggakan arena pementasan, karena ada tanggapan mendalang di luar kota.
Peristiwa itu menjadi tonggak sejarah penting karir mendalang Seno Nugroho. Ayahnya tidak marah justru bahagia. Ki Suparman bangga akhirnya Seno bisa mendalang mewarisi jejaknya. ***