3. Markasnya menyamar sebagai pabrik beras
Bagian ini mungkin terdengar seperti sesuatu yang terlalu absurd untuk menjadi kenyataan. Fasilitas penyimpanan server Babylon justru disamarkan sebagai pabrik beras di daerah terpencil.
Dari luar, tempat tersebut tampak seperti bangunan industri biasa. Padahal di baliknya terdapat penjaga bersenjata, kamera pengawas, ruang persenjataan hingga robot tempur.
Jeong Jin Man pun tidak bisa mengandalkan penyamaran sederhana. Timnya harus mengakali sistem keamanan, memalsukan identitas, sampai menggunakan bahan peledak untuk membuka jalan.
Baca Juga: Daftar Pemain Biarkan Hati Bicara: Biodata dan Instagram Bintang Sinetron Terbaru SCTV
4. Operasi dilakukan saat Jin Man dianggap tewas
Kabar kematian Jeong Jin Man menjadi bagian penting dari rencana pencurian server. Ia memperkirakan hanya memiliki sekitar 62 jam sebelum Babylon menyadari bahwa kematiannya hanyalah tipu daya.
Bersama Park Jin Woo, Kwak Cheol Seung, dan Pasin, ia menyerbu fasilitas tersebut. Bahkan, Jeong Jin Man menggunakan topeng prostetik yang menyerupai Bale untuk memperpanjang penyamarannya.
Rencana itu nyaris berantakan ketika alarm berbunyi. Namun, tim berhasil membuka akses menuju server hingga akhirnya perangkat tersebut dibawa keluar menggunakan helikopter.
Baca Juga: Anggaran MBG Tak Boleh Lagi “Nebeng” Dana Pendidikan, Ini Putusan Terbaru MK
5. Server dipakai untuk menyelamatkan Ji An
Pada akhirnya, tujuan Jeong Jin Man bukan menjual data Babylon demi keuntungan pribadi. Server tersebut ia jadikan alat tawar untuk membebaskan Jeong Ji An dari perburuan.
Masalahnya, Babylon tidak tinggal diam. Organisasi tersebut justru meningkatkan tekanan dan memunculkan ancaman baru terhadap Ji An.
Di sinilah server Babylon berubah fungsi. Dari sekadar pusat penyimpanan data, benda tersebut menjadi pusat konflik A Shop for Killers 2—berisi rahasia, bukti, sekaligus kekuatan tawar yang bisa menentukan nasib Jeong Jin Man dan Ji An.