Gara-Gara Varian Delta, Anggaran Bidang Kesehatan di APBN Melewati 200 Triliun Rupiah

photo author
Ipiek Riyanto, TitikTemu.co
- Rabu, 25 Agustus 2021 | 07:30 WIB
Menkeu Sri Mulyani memberikan keterangan pers dalam Konpers Kemenkeu BI (24/8) (Pic. tangkapan layar youtube BI)
Menkeu Sri Mulyani memberikan keterangan pers dalam Konpers Kemenkeu BI (24/8) (Pic. tangkapan layar youtube BI)

TITIKTEMU.CO 

JAKARTA - Penanganan dampak Covid-19 secara global termasuk Indonesia, mengalami tantangan berat akibat meluasnya virus varian Delta secara cepat.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan, proyeksi pertumbuhan ekonomi di banyak negara telah berubah akibat pandemi Covid-19. Varian delta diperkirakan memperlambat perekonomian global tahun ini. 

Menkeu menyebut, sejumlah negara yang proyeksi konsensus lebih rendah dibandingkan proyeksi IMF, antara lain Brazil, Jerman, Jepang, Korea Selatan, Mexico.  

"Ini semuanya nanti akan di-update lagi menjelang annual meeting dan kita akan melihat dampak delta yang sudah menyebar di 140 negara," kata Sri Mulyani dalam Konferensi Pers Pemerintah dan Bank Indonesia Perkuat Kerja Sama dalam Pembiayaan Sektor Kesehatan dan Kemanusiaan Sebagai Dampak Pandemi Covid-19, melalui kanal Youtube Bank Indonesia di Jakarta, Selasa (24/8).

Baca Juga: Industri Berorientasi Ekspor Boleh Beroperasi 100 Persen. Jabodetabek Turun Ke Level 3 PPKM

Permasalahan kesehatan kembali melonjak seiring peningkatan signifikan jumlah kasus positif dan korban jiwa di berbagai daerah.

Untuk itu, Indonesia harus mempersiapkan diri bagaimana hidup berdampingan dengan pandemi yang kemungkinan besar akan menjadi endemi. 

“Menuju kebiasaan baru living with endemic itu artinya negara harus mampu untuk menyiapkan vaksinasi dan cukup luas sehingga bisa memunculkan herd immunity, masyarakat tetap menjalankan 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas) dan mengimplementasikan 3T dengan biaya yang cukup besar (testing, tracing dan treatment), pemerintah juga harus berbenah pada sistem kesehatan” lanjut Sri Mulyani. “

Baca Juga: Update Covid-19, Ini 10 Daerah dengan Kasus Tertinggi di Indonesia

Ini adalah sebagai langkah-langkah untuk menyelamatkan manusia dari ancaman kesehatan dan kondisi sosial yang sangat menekan, dan menyelamatkan manusia dari sisi ancaman ekonomi. 

Sri Mulyani kembali menjelaskan bahwa APBN masih menjadi instrumen utama penanganan pandemi dan pemulihan ekonomi. Kebijakan fiskal harus antisipatif dan tetap menjaga sustainabilitas jangka panjang. Makanya APBN harus fleksibel dan antisipatif terhadap ketidakpastian, efektif memberi dukungan dalam pengendalian pandemi dan pemulihan ekonomi.

“Dalam menghadapi varian delta, anggaran untuk penanganan Covid dan pemulihan ekonomi atau PEN mengalami kenaikan, jumlah yang signifikan naik adalah bidang kesehatan dari Rp174 triliun naik ke Rp193 T dan kemudian menjadi Rp214,9 T, atau lebih dari 22% hanya dalam hitungan beberapa bulan sejak varian delta masuk ke Indonesia,” ucap Sri Mulyani.

Baca Juga: Horeee.. Kasus Baru Covid-19 Jateng Turun Drastis, dari 3000-an Jadi 427 Perhari

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Tags

Rekomendasi

Terkini

X