ekonomi

Rupiah Menguat ke Rp 16.802 per Dolar AS, Isu Tarif Global dan Sinyal The Fed Bayangi Pasar

Senin, 23 Februari 2026 | 17:15 WIB
Rupiah Menguat ke Rp 16.802 per Dolar AS, Isu Tarif Global dan Sinyal The Fed Bayangi Pasar. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

Inflasi Berbasis PCE

Di sisi lain, inflasi berbasis Personal Consumption Expenditures (PCE) inti justru menunjukkan tekanan harga yang masih tinggi.

Angka inflasi tahunan PCE inti naik ke 3 persen, masih jauh di atas target 2 persen yang ditetapkan bank sentral AS.  Kondisi ini memperkuat ekspektasi Federal Reserve atau The Fed akan menahan suku bunga

Bagi rupiah, kombinasi perlambatan ekonomi AS dan sikap hati-hati The Fed menciptakan dinamika tersendiri. Di satu sisi, pelemahan ekonomi AS bisa menekan dolar.

Namun di sisi lain, suku bunga tinggi yang dipertahankan lebih lama berpotensi menjaga daya tarik aset berdenominasi dolar AS.

Baca Juga: Kolaborasi ANTAM dan Masyarakat  Hasilkan Model Pertanian Sirkular Terpadu untuk Ketahanan Pangan dan Penguatan Ekonomi Desa

Bagaimana Prediksi Rupiah 24 Februari 2026?

Pengamat pasar menilai, untuk perdagangan Selasa 24 Februari, rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan sideways.

Sentimen global terkait tarif dan arah kebijakan moneter AS tetap menjadi faktor dominan. Di dalam negeri, stabilitas inflasi dan komitmen Bank Indonesia menjaga likuiditas menjadi penopang utama.

Secara teknikal, rupiah diperkirakan bergerak Rp16.750 hingga Rp16.900 per dolar AS. Investor disarankan mencermati perkembangan negosiasi dagang global serta rilis data ekonomi lanjutan dari AS.

Penguatan rupiah di awal pekan menjadi angin segar. Namun, selama ketidakpastian global masih tinggi, volatilitas pasar valuta asing diprediksi tetap mewarnai pergerakan nilai tukar.***

Halaman:

Tags

Terkini