Namun, respons pasar belum optimal karena pembatasan sosial saat itu mendorong konsumen beralih ke platform digital.
Pivot Bisnis: Dari Keripik ke Ayam Geprek
Menghadapi tantangan tersebut, Anselmus melakukan pivot bisnis. Ia tetap mempertahankan identitas rasa pedas-gurih dengan menghadirkan Ayam Geprek MAMOKA dan memanfaatkan layanan GoFood.
Strategi ini terbukti efektif. Permintaan melonjak, bahkan sempat mencatat rata-rata 100 porsi per hari dengan lonjakan pesanan signifikan saat momen Harbolnas.
Baca Juga: Mengapa Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H pada 18 Februari 2026? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Langkah digitalisasi diperluas melalui GrabFood dan ShopeeFood. Dari sini lahir produk baru seperti Rice Box “Catering MAMOKA” dan Snack Box “Mela Mela MAMOKA” untuk kebutuhan acara dan konsumsi kolektif.
Ekspansi dan Inovasi Tanpa Henti
Setelah sukses dengan makanan siap saji, Anselmus kembali menghidupkan produk sambal MAMOKA yang dikemas sebagai oleh-oleh khas Yogyakarta bercita rasa pedas gurih unik.
Produk sambal tersebut kini tersedia di berbagai toko oleh-oleh ternama. Bahkan, beberapa kementerian pernah melakukan kunjungan ke MAMOKA Group.
Tak berhenti di situ, ia memperluas lini usaha dengan menghadirkan kuliner khas Sumatera Utara seperti Mie Gomak, Miso, Lapet, Lupis, dan Bandrek. Produk ini mendapat sambutan luar biasa, terutama saat dipasarkan di Pasar Kangen dengan penjualan mencapai 3.000 unit.
Baca Juga: Viral! Rumah Jokowi di Solo Muncul sebagai ‘Tembok Ratapan’ di Google Maps, Ini Faktanya
Keaslian rasa dijaga dengan menggunakan bahan baku asli seperti andaliman, jinten, dan bubuk daun jeruk purut.
Strategi Digital Jadi Kunci
Kini, MAMOKA Group memanfaatkan marketplace seperti Tokopedia dan Shopee sebagai kanal distribusi utama.
Branding diperkuat melalui Instagram dan WhatsApp Business.