Sektor lain seperti barang baku, infrastruktur, properti, teknologi, hingga keuangan turut terkoreksi. Bahkan sektor teknologi yang sebelumnya menjadi favorit investor juga tidak mampu bertahan dari tekanan jual.
Satu-satunya sektor yang berhasil mencatatkan penguatan hanyalah sektor transportasi, dengan kenaikan tipis sebesar 0,53 persen.
Moody’s Memicu Kekhawatiran Investor
Salah satu faktor utama yang menekan IHSG hari ini adalah keputusan Moody’s Investors Service yang mengubah outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Meski peringkat kredit Indonesia tetap berada di level Baa2 atau investment grade, perubahan outlook ini memicu kekhawatiran di kalangan investor global.
Moody’s menilai terdapat tantangan dalam hal prediktabilitas kebijakan dan tata kelola ekonomi. Perubahan outlook ini sering dianggap sebagai sinyal risiko jangka menengah yang dapat memengaruhi arus investasi asing.
Sentimen ini membuat investor cenderung mengurangi eksposur mereka terhadap aset berisiko, termasuk saham.
Tekanan Global dari Wall Street dan Asia Perburuk IHSG
Selain faktor domestik, pelemahan IHSG juga dipengaruhi sentimen global yang negatif. Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup melemah tajam sehari sebelumnya.
Indeks Dow Jones turun 1,2 persen, S&P 500 melemah 1,23 persen, dan Nasdaq turun 1,59 persen.
Pelemahan Wall Street ini memberikan efek domino ke bursa Asia, termasuk Indonesia. Investor global khawatir terhadap perlambatan ekonomi dunia, terutama dari China yang masih menjadi motor utama ekonomi Asia.
Ketidakpastian global membuat investor memilih aset yang lebih aman dan menjual saham di pasar berkembang.
Cadangan Devisa Turun Tambah Tekanan Pasar
Sentimen negatif juga datang dari penurunan cadangan devisa Indonesia. menjadi USD 154,6 miliar pada Januari 2026, dari sebelumnya USD 156,5 miliar pada Desember 2025.