TITIKTEMU.CO - Harga Bitcoin (BTC) njlok tajam di awal Februari 2026, memicu kekhawatiran investor global.
Cryptocurrency terbesar di dunia ini kini diperdagangkan di kisaran USD 70.955, turun lebih dari 3 persen dalam 24 jam terakhir, dan bahkan sempat menyentuh titik terendah USD 70.417.
Penurunan ini menjadi sorotan karena sebelumnya Bitcoin mencetak rekor di atas USD 126.000 pada Oktober 2025. Dalam waktu kurang dari empat bulan, harga Bitcoin terkoreksi hampir 40 persen dari level tertingginya.
Kondisi ini pun memicu perdebatan baru. Apakah Bitcoin hanya mengalami koreksi sementara, atau justru mulai memasuki fase bear market yang lebih dalam?
Sentimen Pasar Berubah
Penurunan harga Bitcoin terbaru menunjukkan perubahan signifikan dalam sentimen pasar kripto. Banyak investor yang sebelumnya optimistis mulai berhati-hati, bahkan memilih defensif.
Selama 2025, tren buy the dip atau membeli saat harga turun menjadi strategi populer. Kini, analis melihat pergeseran menuju strategi short selling, yaitu menjual aset untuk mengantisipasi penurunan lebih lanjut.
Analis pasar kripto Hiroyuki Kato dari CXR Engineering menyebut Bitcoin sedang menghadapi tekanan teknikal serius.
“Struktur grafik menunjukkan pola head and shoulders, yang biasanya menjadi sinyal potensi penurunan lebih lanjut jika garis neckline ditembus,” ujarnya.
Jika pola ini terkonfirmasi, jelasnya, Bitcoin berpotensi memasuki tren penurunan jangka menengah hingga panjang.
Peringatan Michael Burry
Kekhawatiran semakin meningkat setelah investor legendaris Michael Burry, yang terkenal lewat prediksi krisis finansial 2008, mengeluarkan peringatan keras.