Berbeda dengan bunga flat murni, di mana bunga dan pokok dibagi rata sejak awal hingga akhir tenor. Meski cicilan anuitas terlihat tetap setiap bulan, komposisinya terus berubah.
Memahami masalah bunga KUR ini penting, terutama jika suatu saat ingin melunasi pinjaman lebih cepat.
Baca Juga: Tabel Angsuran KPR Bank BUMN 2026: Bunga Rendah, Syarat Mudah
Jenis KUR dan Pengaruhnya pada Cicilan
Sebelum menghitung cicilan, pelaku usaha perlu mengetahui kategori KUR yang diajukan karena plafon dan ketentuannya berbeda.
KUR Super Mikro ditujukan bagi usaha sangat kecil atau calon wirausaha baru, dengan plafon hingga Rp10 juta. Pada kondisi tertentu, bunga bisa lebih rendah karena subsidi lebih besar.
KUR Mikro menjadi pilihan terbanyak, dengan plafon Rp10 juta hingga Rp100 juta. Tidak memerlukan agunan tambahan dan cocok untuk usaha yang sudah berjalan minimal enam bulan.
KUR Kecil menyasar usaha yang lebih mapan, dengan plafon Rp100 juta hingga Rp500 juta. Pada kategori ini, bank biasanya mulai meminta jaminan tambahan.
Baca Juga: Daftar Bank Mudah Menyetujui Pengajuan Kartu Kredit, SLIK OJK Wajib Bersih!
Cara Menghitung Cicilan KUR
Meski bank menggunakan tabel anuitas, pelaku UMKM bisa melakukan hitungan kasar untuk memperkirakan cicilan bulanan. Metode ini membantu menilai kemampuan bayar sebelum mengajukan pinjaman.
Misalnya, seorang pedagang mengajukan KUR Mikro Rp50 juta dengan tenor 24 bulan dan bunga 6 persen per tahun.
Langkah pertama, hitung bunga tahunan:
Rp50.000.000 x 6% = Rp3.000.000 per tahun.
Karena tenor dua tahun, total bunga selama masa kredit: