Gubernur BI Berganti, Tapi Rupiah Diprediksi Tetap Loyo sampai 2031: Ini Masalahnya

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Senin, 31 Agustus 2026 | 12:44 WIB

Ekspor Masih Jadi Titik Lemah

Indonesia memang menghasilkan devisa melalui ekspor batu bara, kelapa sawit, dan nikel. Sayangnya, ketergantungan terhadap komoditas membuat penerimaan ekspor sangat dipengaruhi harga pasar global.

Ketika harga komoditas jatuh, pemasukan devisa bisa ikut tertekan. Di sisi lain, Indonesia tetap membutuhkan dollar untuk membayar impor barang modal, bahan baku, utang luar negeri, dan berbagai transaksi internasional.

Baca Juga: Bansos Kemensos Rp600 Ribu Agustus 2026 Cair Bertahap, Begini Cara Cek Namanya

Situasi tersebut menciptakan ketidakseimbangan ketika kebutuhan dollar lebih besar daripada pasokannya. Akibatnya, rupiah kembali berada di bawah tekanan.

Cadangan Devisa dan Investasi Jadi Sorotan

Didik juga menyoroti cadangan devisa Indonesia yang disebut mencapai sekitar 145,3 miliar dollar AS pada akhir Juli 2026. Ia membandingkannya dengan Singapura sekitar 426,2 miliar dollar AS dan Thailand sekitar 279,2 miliar dollar AS.

Menurutnya, ukuran ekonomi Indonesia membuat cadangan tersebut belum cukup kuat sebagai penyangga eksternal.

Baca Juga: Gus Kikin Terpilih Jadi Ketum PBNU 2026-2031, Tegaskan NU Milik Bersama dan Tak Boleh Jadi Tunggangan Politik

Investasi asing juga dinilai belum sepenuhnya menjadi solusi. Investor akan mempertimbangkan kepastian hukum, risiko korupsi, biaya bisnis, dan kualitas lingkungan usaha sebelum menanamkan modal.

Karena itu, persoalan rupiah tidak bisa dibebankan kepada BI sendirian. Jika Indonesia ingin rupiah lebih kuat hingga 2031, ekonomi perlu lebih berani mencari pemasukan dari luar negeri—bukan terus mengandalkan besarnya pasar domestik.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Leihana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X