Bukan Sate Biasa, Warung Legendaris di Beringharjo Yogyakarta Ini Laris Manis Pada Saat Libur Lebaran

photo author
Ipiek Riyanto, TitikTemu.co
- Jumat, 11 April 2025 | 17:02 WIB
Bukan Sate Biasa, Warung Legendaris di Beringharjo Yogyakarta Ini Laris Manis Pada Saat Libur Lebaran (Dok. BRI)
Bukan Sate Biasa, Warung Legendaris di Beringharjo Yogyakarta Ini Laris Manis Pada Saat Libur Lebaran (Dok. BRI)

TITIKTEMU.CO, Yogyakarta – Setiap kunjungan ke Yogyakarta terasa kurang lengkap rasanya tanpa mencicipi kuliner khas di sana.

Salah satu yang tak boleh dilewatkan adalah Warung Bu Sum, tempat makan legendaris di Pasar Beringharjo yang telah melayani pelanggan selama lebih dari enam puluh tahun. 

Baca Juga: Artis Legendaris Titiek Puspa Meninggal Pada Usia 87 Tahun. Sempat menulis 61 lagu saat dalam perawatan sakitnya

“Di sini memang makanannya khas Jawa semua. Kalau yang favorit ada sate kere yang terbuat dari daging sapi, tapi ada juga sate ayam, nasi gudeg, mangut lele, dan lainnya. Untuk jam operasionalnya sendiri mulai dari jam 6 pagi hingga 4 sore setiap harinya, karena kita masih ikut jam buka-tutup pasar,” ujar Udiyanti, generasi ketiga dari Warung Bu Sum. 

Meski telah berdiri sejak lama, warung ini tetap mempertahankan eksistensinya dan selalu dipadati oleh pengunjung.

Baca Juga: Karena Alasan Kemanusiaan, Prabowo Siap Evakuasi 1.000 Warga Gaza ke Tanah Air

Semuanya berkat keunikan cita rasa dan konsistensi kualitas yang membuatnya menjadi destinasi kuliner favorit bagi para pelanggan setia.

Warung Bu Sum ini terkenal akan kuliner ‘Sate Kere’ yang terbuat dari sandung lamur (daging sapi dengan lapisan lemak) yang dibakar dengan bumbu rempah dan kecap. Selain itu, ada juga menu lainnya yang tak kalah menggiurkan dan diminati oleh para pelanggan yang berkunjung, seperti gulai sapi hingga soto daging.

Baca Juga: Buntut Sopir Tangki Pertamina Oplos Pertalite dengan 4.000 Air, SPBU Trucuk Klaten Berhenti Beroperasi

Udiyanti menceritakan bahwa usaha ini dulunya merupakan tempat makan kecil biasa yang bahkan tidak memiliki nama. Namun, seiring berjalannya waktu, Warung Bu Sum kini semakin berkembang dan sukses meraih omzet hingga belasan juta rupiah.

Menariknya, tempat makan yang satu ini masih mempertahankan cara memasak yang tradisional, yakni dengan menggunakan anglo kecuali untuk kuahnya. Jika makan langsung di warung, para konsumen akan bisa mencium sendiri aroma rempah yang gurih dan nikmat yang bisa menambah selera makan.

Baca Juga: Pesan Menyentuh Titiek Puspa yang Baru Terungkap Setelah Wafat, Tentang Kurangnya Perhatian Terhadap Seni Budaya Leluhur

Udiyanti juga bercerita bahwa usaha turun-temurun yang ditekuninya tersebut kini menghasilkan omzet hingga jutaan rupiah setiap harinya, tak terkecuali ketika momen Lebaran tiba.

“Selama Lebaran, kami tutup 2 hari. Di hari ke-3 baru buka kembali. Dan mulai dari hari ke-3 ini sudah kembali ramai dan bisa bertahan sampai libur sekolah anak-anak selesai,” tuturnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ipiek Riyanto

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X