TITIKTEMU.CO DEMAK- Sosok anggota DPRD Demak Badarodin ini dikenal tegas dan pemberani. Saat terjadi demo penutupan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Candisari, Demak, dia ikut bernegosiasi dengan warga. Bersama dengan Ketua DPRD Demak Fahrudin Bisri Slamet dan Busro dari fraksi PDIP.
Anggota Fraksi PDIP ini tiba-tiba dipanggil Ketua DPRD Demak Fahrudin Bisri Slamet. Dia diminta untuk segera meluncur ke Desa Candisari, Mranggen, karena ada demo warga menutup TPA Candisari.
Meski berjarak dua kilo meter dari perkampungan warga, namun baunya sudah sangat menyengat, sehingga merugikan warga. Maklum, saat musim hujan sampah yang bercampur kotoran ayam itu, baunya tidak ketulungan.
Baca Juga: 7 Fakta Menarik Film KKN di Desa Penari, Lokasi Masih Menjadi Teka-teki
Badarodin lantas segera meluncur ke tempat demo warga. Dan di sana ternyata beberapa pegawai Dinas Lingkungan Hidup (LH) Demak sudah disandera warga, sehingga tidak boleh pulang. Negosiasi pertama dilakukan Ketua DPRD Demak Fahrudin Bisri Slamet, yang juga Ketua DPC PDIP Demak. Setelah itu Anggota DPRD Demak dari Dapil IV (Mranggen dan Karangawen) ini lantas bernegosiasi dengan warga, bersama dengan rekan sefraksinya, Busro..
“Keputusannya TPA Candisari ditutup dulu, karena memang sampahnya sudah menumpuk. TPA itu ternyata tidak hanya digunakan untuk pembuangan sampah warga Mranggen saja, namun juga warga lain di Demak,” ungkapnya.
Penutupan itu disambut lega oleh masyarakat dan aparat yang berjaga-jaga di sekitar lokasi demo tersebut. Petugas dari LH, akhirnya juga bisa meninggalkan tempat itu. Namun penutupan ini juga bisa berdampak kepada LH Demak, karena lokasi TPA yang baru berada di Berahan Kulon, Wedung, Demak, dekat dengan laut.
Baca Juga: 55 Peserta Lolos Seleksi Administrasi Calon Anggota Komisi Informasi Jateng. Ini Daftar Namanya
“Karena posisisinya yang jauh dari Mranggen, tentu ada kenaikan biaya operasional dari LH Demak untuk mengangkut sampah ke sana,” ungkap alumnus Untag Semarang ini. Dia juga mengusulkan ada tempat dan alat untuk memproses sampah itu di dekat TPA. Sayangnya justru fasilitas itu justru dibangun di belakang Kelurahan Batursari, Mranggen.
Dia juga tidak paham mengapa fasilitas itu dibangun di dekat kantor kelurahan dan ternyata saat ini tidak digunakan, sehingga sia-sia dibangun. “Namun saya belum meninjau tempat pemrosesan sampah itu,” tambahnya.
Pria berperawakan tegap ini, memang sudah berpengalaman dalam soal sampah. Sebagai warga Pucang Adi, Perumnas Pucang Gading, yang berdekatan dengan TPS (Tempat Pembuangan Sementara), dia pernah membersihkan tumpukan sampah di TPS itu, dengan uang pribadinya. Hal itu terjadi, sebelum sampah dikelola PT New Kuda Mas.
Baca Juga: Berkah Syawalan, 20 Narapidana Lapas Semarang Bisa Pulang ke Rumah
Dia juga tak segan membantu prasarana di wilayahnya. “Bahkan dana aspirasi dari PDIP Demak, saya serahkan sepenuhnya kepada warga. Tidak saya ambil serupiahpun,” tegasnya.
Badarodin juga ingin membantu pembuatan talud di dekat rumahnya. Namun oleh lurah setempat, diminta izin ke desa dulu. Padahal menurutnya, dia sudah izin ke ketua RT, dan ketua RW lah yang nanti akan menyampaikannya ke kepala desa.