Meski begitu, hingga saat ini belum terdeteksi tekanan dari magma dalam.
Status Gunung Masih Normal, Tapi Tetap Waspada
Walaupun ada peningkatan aktivitas kegempaan, status Tangkuban Parahu masih berada pada Level I (Normal).
Asap putih dari Kawah Ratu terlihat naik setinggi 5 hingga 120 meter di atas dasar kawah, dengan intensitas dari tipis hingga tebal.
Baca Juga: Faktor Penyebab Gorontalo Jadi Wilayah Rawan Gempa Bumi, Salah Satunya 'Dikepung' Sesar Aktif
Namun, masyarakat diminta tetap waspada terhadap kemungkinan erupsi freatik, yang bisa terjadi tanpa gejala vulkanik mencolok dan berpotensi menimbulkan hujan abu serta lontaran material di sekitar kawah.
Imbauan untuk Masyarakat dan Wisatawan
Badan Geologi mengimbau masyarakat agar:
- Tidak mendekati dasar kawah.
- Tidak berlama-lama atau menginap di sekitar kawah aktif.
- Segera meninggalkan lokasi jika asap kawah mengental atau tercium bau gas menyengat.
Langkah ini penting untuk menghindari paparan gas beracun dan risiko letusan mendadak.
Baca Juga: Apa Aja Sih yang Harus Diperhatikan Sebelum Beli TWS? Ini 5 Poin Penting Sebagai Pertimbangan
Tetap Tenang dan Pantau Informasi Resmi
Masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Parahu diimbau untuk tetap tenang, tidak mudah terpancing isu erupsi yang belum terbukti, dan selalu mengikuti arahan dari otoritas resmi seperti PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) serta Pos Pengamatan Gunung Api di Cikole, Lembang.
“Evaluasi aktivitas gunung akan terus dilakukan secara berkala, dan bisa diperbarui sewaktu-waktu jika terjadi perubahan signifikan,” tambah Wafid.
Aktivitas Terakhir dan Sejarah Erupsi
Sebagai catatan, erupsi terakhir Gunung Tangkuban Parahu terjadi pada 26 Juli 2019 dari Kawah Ratu, dimulai dengan letusan freatik.