Acara dimulai sejak Jumat malam dan memuncak pada Sabtu (26/4/2025), dengan suasana Monas yang berubah menjadi panggung rakyat penuh warna dan semangat kebersamaan.
Baca Juga: Ingin Sukses di Era Digital? Ini 3 Skill Data yang Wajib Kamu Kuasai
Makna dan Sejarah di Balik Lebaran Betawi
Lebaran Betawi bukan hanya soal hiburan. Festival ini berakar pada semangat silaturahmi dan pelestarian budaya lokal. Budayawan Betawi, Yoyo Mukhtar, mengisahkan bahwa Lebaran Betawi pertama kali diadakan pada tahun 2008.
Gagasan ini muncul dari para sesepuh Betawi sebagai bentuk penghormatan kepada semua suku yang hidup berdampingan di Jakarta.
“Lewat Lebaran Betawi, orang Betawi ingin menjalin hubungan yang harmonis dengan seluruh warga Jakarta. Ini adalah bentuk penghormatan dan silaturahmi antar-etnis,” kata Yoyo.
Baca Juga: 3 PTN yang Buka Jalur Mandiri Khusus untuk Anggota PMR di 2025
Festival ini selalu dilaksanakan di bulan Syawal, tidak jauh dari perayaan Idul Fitri. Hal ini menjadi simbol eratnya tradisi Betawi dengan nilai-nilai Islam dan kekeluargaan.
Tradisi Dodol: Cita Rasa yang Menyatukan
Dalam setiap perayaan Lebaran Betawi, dodol Betawi menjadi ikon yang tak tergantikan.
Tradisi membuat dodol dan mengantarkannya kepada orang tua serta guru dianggap sebagai bentuk penghormatan dan simbol kasih sayang.
“Kalau enggak ada dodol, belum lengkap namanya Lebaran. Dodol itu kebanggaan orang Betawi,” ujar Yoyo.
Baca Juga: Keluhan Soal TWK Rekrutmen BUMN 2025 yang Banyak Bahas TNI, Ini Penjelasan dari FHCI
Lebaran Betawi Sebagai Penjaga Warisan Budaya di Tengah Modernisasi
Di tengah geliat modernisasi Jakarta yang makin pesat, Lebaran Betawi menjadi momen penting untuk mengingatkan warga tentang pentingnya menjaga budaya lokal.