Pada akhir pekan, rata-rata sekitar 200 wisatawan mampir di desa tersebut. Sebagian besar dari mereka ingin melihat Gunung Merapi dari dekat sekaligus menikmati panorama alam pegunungan.
“Pada 2017 hanya ada 489 pengunjung yang datang dan menginap, kemudian pada 2018 naik menjadi 1.537. Sebelum pandemi setiap akhir pekan sekitar 200 pengunjung. Kedatangan wisatawan menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Baca Juga: Bukit Ngisis Nglinggo, Pilihan Wisata Alam dengan Latar Belakang Sembilan Gunung
Selain mendirikan warung dan Taman Garden Merapi, lanjut Tiyono, Yayasan Damandiri juga mulai menyajikan pentas-pentas kesenian tradisional, seperti Jatilan, dan Tari Topeng Ireng yang merupakan tarian khas lereng Merapi dan Merbabu.
Wisatawan yang datang ke Desa Samiran juga diajak live-in dengan penduduk lokal, soft tracking/tracking ke Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.
Ada juga outbond dan menawarkan program wisata edukasi, antara lain belajar gamelan, tari topeng ireng, serta menanam sayur serta buah.
Desa wisata Samiran juga menawarkan paket wisata petik sayur organik, perah susu sapi, dan mengunjungi kerajinan tembaga.
Paket lain adalah menyaksikan film Merapi di Merapi Theater, serta menikmati Gunung Merbabu dan Merapi melalui Gardu Pandang New Selo dan Unit Gunung Api (UGA).
“Kita selalu mengupdate paket-paket wisata semenarik mungkin. Semuanya untuk kesejahteraan warga desa. Selo ini kan kawasan wisata yang menarik, sayang kalau warga lokal hanya menjadi penonton,” kata Tiyono. ***