TITIKTEMU.CO, Dinas Kebudayaan DIY kembali menggelar Jogjakarta International Heritage Festival (JIHF) Tahun 2024 dengan mengusung tema ‘Kuasa Pusaka: Peran Keris dalam Kepemimpinan Nusantara’.
Event yang diselenggarakan selama 5 hari, mulai 13-17 November 2024 ini, menyoroti keris yang dalam khazanah budaya nusantara memiliki kekuatan cukup vital lantaran lekat dengan peran kepemimpinan seorang tokoh pada masing-masing wilayahnya.
Tema tersebut dimanifestasikan dalam beberapa kegiatan diantaranya, yaitu pameran keris pusaka, seminar internasional, workshop tosan aji, konsultansi keris atau cek khodam, lomba foto/video konten dan vlog dengan tema serta objek aktivitas JIHF, dan pekan raya tosan aji.
Melalui JIHF 2024 ini, diharapkan nilai-nilai tak benda yang terkandung dalam keris semakin dipahami masyarakat luas dan keris dapat kembali menjadikan sumber inspirasi dan penyemangat bangsa Indonesia.
Baca Juga: Menengok Keris Kiai Kanjeng Nogo Siluman, Milik Pangeran Diponegoro di Musium Keris Solo.
Paniradya Pati Kaistimewan Aris Eko Nugroho menuturkan, keris memiliki kisah sejarah dan ilmu pengetahuan yang dalam, mengandung pesan tentang kehidupan yang kaya dan penuh hikmah.
Festival yang mengusung berbagai koleksi keris dari kerajaan sepuh hingga daerah lainnya di Nusantara ini menjadi medium untuk mendalami filosofi hidup yang diwakili oleh keris, seperti ketajaman dalam pemikiran, ketegasan dalam prinsip, dan kesabaran dalam menghadapi tantangan.
“Kita berharap penyajian yang menarik ini mampu menjadikan keris lebih dekat di hati masyarakat, terutama generasi muda, agar mereka memiliki kecintaan dan kebanggaan terhadap warisan budaya bangsa. Melalui JIHF Keris ini, kita memiliki peluang emas untuk membangkitkan kembali kecintaan terhadap warisan leluhur yang berharga,” kata Aris.
Sementara itu, menurut Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, di Yogyakarta, keris juga memberikan penanda khusus pada peranan raja dengan adanya keris-keris yang ada di dalam Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman.
Baca Juga: Keris Mpu Gandring, Ken Arok, dan Pertumpahan Darah di Kerajaan Singasari
Keris Yogyakarta dimulai pada saat dengan adanya keris tangguh yang muncul di lingkungan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, dibuktikan dengan adanya keberadaan sekelompok abdi dalem yang dipimpin Lurah Pande yang diperintahkan untuk membuat keris, tombak, pedang dan senjata melalui utusan raja yang disebut Jejeneng Empu.
Keris selain sebagai senjata yang memiliki fungsi praktis dan pragmatis serta bernilai estetis, adalah merupakan benda pusaka yang menyimpan makna-makna simbolik yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di dalam sebilah keris tersimpan berbagai perlambang yang mengandung makna yang kompleks, sebagai perwujudan harapan, falsafah hidup serta nilai-nilai moral. Oleh karena itu keris juga berkaitan erat dengan fungsinya sebagai penanda status sosial, terutama di dalam masyarakat aristokratik. Maka di dalam keindahan dan keanggunan keris sebenarnya tersimpan berbagai makna yang diwujudkan melalui berbagai dhapur (bentuk fisik dari bilah keris) dan beragam pamor (corak atau gambar yang muncul pada bilah keris).
Baca Juga: Mengenal Tradisi Jamasan Pusaka, Sebagai Adat Jawa
Pameran "Keris dan Kepemimpinan" ini pun menampilkan berbagai dhapur dan pamor keris yang berhubungan dengan nilai-nilai kepemimpinan. Kuasa kepemimpinan selain didasarkan pada konsep wahyu sebagai penopang legitimasi kepemimpinan, juga dipercaya memiliki hubungan mistis antara pemimpin dengan daya-daya kosmis, seperti para leluhur, kekuatan alam semesta dan pusaka-pusaka.
Artikel Terkait
Kirab Pusaka Malam 1 Sura Kelilingi Mangkunegaran. GPH Paundrakarna Pimpin Kirab dengan Tapa Mbisu
Malam 1 Suro , Kirab Pusaka Keraton Kasunanan Surakarta. Lima Kebo Bule jadi Cucuk Lampah
Mengenal Tradisi Jamasan Pusaka, Sebagai Adat Jawa
Pemkot Yogya Merawat dan Melestarikan Pusaka Dengan Jamasan Tombak Kyai Wijoyo Mukti
Jamasan Kereta Pusaka dan Pohon Beringin Tradisi Keraton Selama Bulan Sura Yang Lestari