Walaupun begitu, karakter para pendukung tulen klub semacam Leyton Orient, sama dengan pendukung sejati Liverpool, Chelsea, atau pun Manchester United.
Mereka berpegang teguh pada prinsip kompetisi dengan sistem promosi dan degradasi. Bahwa setiap klub, betapapun guremnya, berhak naik jenjang,
Sebaliknya setiap klub, betapapun kayanya, bisa terjungkal ke jenjang yang lebih rendah.
Baca Juga: Diduga Menyuap Rp 3,1 Miliar, Ini Kekayaan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin
Memang para pendukung klub seperti Manchester City, Manchester United dan Chelsea, umumnya mau menerima pundi-pundi yang dibawa oleh Sheik Mansour, Roman Abramovich atau Stan Kroenke.
Tapi bukan berarti para miliarder itu bisa seenaknya mengubah karakter kompetisi sepakbola Inggris.
Buktinya kita lihat beberapa bulan lalu ketika, atas ajakan Juventus dan Real Madrid, beberapa klub Premier League berniat bergabung denga liga sempalan elit Eropa yang menjamin bahwa mereka tak akan terkena degradasi; semacam NBA atau NFL.
Reaksi para penggemar Chelsea, United, dan Liverpool sangat cepat dan keras.
Mereka turun ke jalan untuk menunjukkan kemarahan mereka, sampai akhirnya liga itu batal bergulir.
Baca Juga: Oalah! Dukun Pembuat Ramuan Anti Covid-19 Ini Meninggal karena Terpapar Corona
Meski klub mereka sudah menjadi bisnis global, mereka masih berpegang pada prinsip bahwa mereka berasal dari akar yang terpisahkan dengan klub-klub yang tetap lokal.
Klub-klub lokal yang ikut membesarkan Harry Kane dan banyak pemain bintang lainnya.***
Artikel Terkait
La Pulga Makin Tajir Melintir, Lionel Messi Digaji PSG, 1 koma 7 Miliar Rupiah Sehari!
Belum Sebulan di Manchester Cristiano Ronaldo Sudah Tidak Betah dan Memutuskan Pindah
Lionel Messi Masih Belum Punya Rumah di Paris, Istrinya Kepingin Tinggal di Kastil Mewah Seharga Rp800 Miliar
Thomas Tuchel Ungkap Romelu Lukaku Bisa Jadi Kapten Masa Depan Chelsea