Baca Juga: Pidato Netanyahu di PBB Singgung Prabowo, Walk Out Warnai Sidang Umum
Meski sedang berada di puncak karier, Henky memutuskan pensiun dini pada 1962 di usia 25 tahun. Pilihan itu diambil demi melanjutkan pendidikan di Jepang—sebuah langkah yang jarang dilakukan pemain sepak bola Indonesia saat itu.
Setelah menutup kariernya, Henky berkiprah di dunia profesional. Ia sempat bekerja di Taisel Corporation Hotel Okura Jepang (1968–1971) dan kemudian meniti karier hingga menjadi General Manager Toyota Astra Motor Jakarta pada 1976–1996.
Meski masa bermainnya singkat, Henky meninggalkan warisan berharga bagi sepak bola Tanah Air. Pada 2014, Kementerian Pemuda dan Olahraga menerbitkan biografi berjudul Henky Timisela: Wonder Boy Sepak Bola Indonesia karya jurnalis olahraga Sumohadi Marsis.
Baca Juga: Marc Marquez Kunci Gelar Juara Dunia MotoGP 2025 Usai Finis Kedua di Jepang
Buku ini mendokumentasikan kisah hidup, prestasi, serta dedikasi Henky yang menginspirasi generasi muda.
Kini, Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Namun semangat, kerja keras, dan jejak emas sang Wonder Boy akan selalu dikenang dalam sejarah sepak bola nasional.***