nasional

Susu Beruang Berkurang, Susu Segar Terbilang. Peternak Sapi Boyolali Rebound!

Sabtu, 21 Agustus 2021 | 15:24 WIB
Pekerja saat memerah susu sapi di peternakan Dukuh Kepalon Desa Karangkendal Kecamatan Tamansari. Jumat (20/8/2021) (pic Humas Diskominfo Kab Boyolali)

TITIKTEMU.CO

BOYOLALI - Beberapa waktu lalu, sempat viral fenomena susu beruang yang diyakini masyarakat mampu meningkatkan imunitas guna menangkal Covid-19. Bahkan peternak penghasil susu segar di Boyolali, sempat terdampak oleh berita itu. Permintaan terhadap susu segar menurun.

Baca Juga: Ayo Cepat Vaksin! Ibu Hamil Jika Terpapar Corona Akan 3X Lebih Sakit, Dibandingkan Yang Tidak Hamil
Tapi kini, peternak Boyolali rebound. Permintaan susu segar belakangan meningkat. Bisa jadi karena dampak viral soal susu beruang berkurang, terlebih tak ada bukti medis yang menyatakan susu beruang mampu menangkal Covid-19. Atau memang masyarakat sadar, bahwa susu segar, jauh lebih baik.

Belakangan permintaan terhadap susu sapi Boyolagi meningkat. Rilis Humas Kominfo Pemkab Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (20/8/2021) mengungkapkan hal itu. Seperti dikutip dari portal boyolali.go.id, sejak pandemi Covid-19 melanda, masyarakat melakukan berbagai upaya untuk meningkatan daya tahan tubuhnya, untuk melawan Covid-19. Kondisi tersebut berpengaruh dengan peningkatan permintaan susu sapi di berbagai wilayah Indonesia.

Baca Juga: Covid-19 Turun, Mengapa Solo Masih PPKM Level 4?
Kepala Bidang (Kabid) Produksi Ternak Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Boyolali, Gunawan Andriyanto menyampaikan, belakangan ini ada trend peningkatan permintaan susu sapi di Kabupaten Boyolali.
“Pada masa pandemi ini, kondisi negara-negara penghasil susu mengalami gangguan baik distribusi maupun produksi yang mengakibatkan suplai ke Indonesia juga berkurang, sehingga permintaan susu di dalam negeri meningkat,” papar Gunawan Andriyanto.

Baca Juga: Enak Ya, 500 Driver Ojol Baru Di Kota Semarang Bakal Dipinjami Motor Listrik Buat Kerja
Secara nasional produksi susu sapi pada industri pengolah susu di Indonesia hanya mampu memenuhi 20 persen dari kebutuhan masyarakat sehingga 80 persennya masih harus diimpor dari negara luar yaitu Amerika Serikat, Australia, New Zealand dan Kanada.


“Ada satu faktor yang menonjol jadi selama pandemi, memang kesadaran masyarakat kita untuk mengkonsumsi susu cukup tinggi. Karena ada keyakinan bahwa dengan mengkonsumsi susu dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan imunitas sehingga permintaan susu juga cukup meningkat,” jelas Gunawan saat dijumpai di kantornya, Jumat (20/8/2021).

Baca Juga: Vaksinasi Difabel Di Taman Sobokarti Dihibur Musik & Disambangi Ganjar Pranowo
Sementara itu berdasarkan data di dinas peternakan setempat,  selama tiga tahun terakhir ini, Kabupaten Boyolali memiliki jumlah sapi perah sebanyak 94.000. Jumlah tersebut tetap konsisten selama tiga tahun meskipun ada peningkatan sekitar 0,5 hingga 1 persen. Dari sapi sebanyak itu (94.000 ekor), Kabupaten Boyolali, mampu menyumbangkan 49.000 ton/tahun setara 136 ton per hari tertinggi di Jawa Tengah atau menyumbang 49 persen di Jawa Tengah.

Baca Juga: Usaha Kopi Kekinian Modal Rp 2 Juta? Bisa Banget!
“Dari segi topografis kesesuaian wilayah memang perkembangan susu di Kabupaten Boyolali terkonsentrasi di Kecamatan Selo, Cepogo, Musuk, Tamansari, Ampel, Mojosongo dan sedikit di Boyolali Kota. Selain dengan kesesuaian suhu dan juga daya dukung pakan ternak, karena daerah tegalan, jadi untuk budidaya pakan ternak itu sangat cocok sebagai pendorong utama perkembangan industri sapi perah,” kata Gunawan

Baca Juga: 4 Ribu Buruh di Solo Bakal Divaksin Moderna  
Susu yang dihasilkan sapi perah yang berkualitas, berpengaruh pada banyaknya industri pengolah susu (IPS) seperti Bendera, Garuda, SoGood. Karena agar bisa masuk ke IPS, susu harus memenuhi banyak kriteria kualitas antara lain kandungan protein, kandungan lemak, dan kadar kuman maksimal. Untuk itu, pihaknya melakukan berbagai pelatihan kepada peternak sapi perah untuk dapat menghasilkan susu yang berkualitas baik kuantitas maupun kualitas.


“Meningkatkan kualitas bibit sapi perah melalui pelayanan inseminasi buatan, pelayanan kesehatan hewan dan juga pendampingan di dalam uji kualitas susu,” ujar Kadisnakkan Boyolali Gunawan

Baca Juga: Omset Jutaan Rupiah, Warga Olah Daun Kelor Jadi Sirup
Salah satu peternak sapi perah, Sri Suparti mengaku senang dengan adanya peningkatan permintaan susu oleh konsumen. Warga Dukuh Kepalon, Desa Karangkendal, Kecamatan Tamansari, yang juga sebagai pegawai KUD Musuk ini mengalami peningkatan permintaan 


“Selama pandemi ini permintaan dari KUD meningkat sekitar 50 persen. Kalau sesuai harga kualitasnya tinggi sekali untuk pengiriman atau setor ke KUD itu sesuai dengan kualitas ada yang kualitas A ada kualitas B kualitas C. Yang paling tinggi itu kualitas A itu dihargai Rp 6.000, kualitas B Rp 5.700 dan kualitas C Rp 5.500,” kata Suparti dengan senyum lebar. Permintaan meningkat, masyarakat sehat, peternak sapi kian semangat (ewa)***

 

Tags

Terkini