Menurutnya, jika informasi diberikan lebih awal, masyarakat setidaknya dapat mengambil langkah pencegahan agar kerugian tidak semakin besar.
Baca Juga: Quiet Quitting Itu Udah Basi — Ini Namanya Conscious Working dan Gen Z Udah Duluan
Keluhan serupa datang dari pekerja yang mengandalkan komputer dan perangkat elektronik dalam aktivitas sehari-hari.
Risiko kehilangan data hingga kerusakan perangkat menjadi kekhawatiran yang cukup sering muncul setiap kali pemadaman mendadak terjadi.
Tak hanya itu, cuaca panas yang sedang melanda sejumlah daerah membuat kondisi semakin tidak nyaman.
Ketika pendingin ruangan berhenti beroperasi, suhu di dalam rumah maupun kantor terasa meningkat drastis.
Di balik insiden ini, sejumlah pakar melihat persoalan yang lebih besar daripada sekadar gangguan teknis sesaat.
Ahli sistem tenaga listrik dari Institut Teknologi Bandung menjelaskan bahwa fenomena cuaca ekstrem seperti El Nino dapat memberi tekanan ganda terhadap sistem energi nasional.
Di satu sisi, suhu udara yang lebih panas mendorong masyarakat menggunakan pendingin ruangan lebih sering. Hal ini membuat konsumsi listrik melonjak tajam, terutama pada jam-jam sibuk.
Baca Juga: “Takut atau Tak Mampu?” Mahfud MD Bongkar Alasan Reformasi Polri Tak Kunjung Bergerak
Di sisi lain, pembangkit listrik tenaga air justru berpotensi mengalami penurunan produksi.
Waduk yang menjadi sumber energi utama beberapa PLTA besar di Jawa Barat dapat mengalami penyusutan debit air selama musim kemarau panjang.
Ketika air berkurang, kemampuan turbin menghasilkan listrik ikut menurun.
Kondisi tersebut menciptakan tantangan yang tidak sederhana. Permintaan listrik naik, sementara sebagian sumber pembangkit menghadapi risiko penurunan kapasitas.