Menurutnya, manfaat dari perdagangan dan investasi global tidak akan optimal apabila ketahanan pangan, energi, teknologi, serta kapasitas produksi nasional belum diperkuat.
Karena itu, agenda kemandirian ekonomi yang mulai didorong pemerintah saat ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memperbaiki berbagai kelemahan struktural yang telah berlangsung lama.
Ia menegaskan bahwa upaya mewujudkan kemandirian pangan, energi, dan teknologi bukanlah bentuk penolakan terhadap globalisasi, melainkan cara memperkuat daya tahan ekonomi nasional agar tidak mudah terguncang oleh faktor eksternal.
Nasionalisme Ekonomi Dinilai Penting untuk Mendorong Kemandirian
Agus juga mengingatkan bahwa konsep kemandirian ekonomi tidak identik dengan proteksionisme atau menutup diri dari dunia internasional.
Menurutnya, kemandirian justru berarti membangun kapasitas domestik yang kuat sehingga Indonesia dapat menjalin hubungan ekonomi global dalam posisi yang lebih setara.
Dalam proses tersebut, ia menilai nasionalisme ekonomi yang sehat perlu ditumbuhkan. Bentuknya antara lain dengan meningkatkan penggunaan produk dalam negeri, memperkuat industri nasional, memperluas pemanfaatan komponen lokal, serta menumbuhkan kebanggaan terhadap rupiah sebagai simbol kedaulatan ekonomi.
Agus mencontohkan keberhasilan negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok yang mampu berkembang menjadi kekuatan ekonomi dunia karena didukung oleh kebijakan industri yang kuat serta kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan bangsanya sendiri.
Baca Juga: Gaji Wasit Piala Dunia 2026 Fantastis! Bisa Raup Rp1,7 Miliar, Belum Termasuk Bonus hingga Final
Nilai Tukar Rupiah Hanya Cerminan Kekuatan Ekonomi
Pada akhirnya, Agus menegaskan bahwa kekuatan ekonomi suatu negara tidak semata-mata ditentukan oleh nilai tukar mata uangnya.
Menurutnya, stabilitas rupiah hanyalah refleksi dari kekuatan sektor riil yang menopang perekonomian nasional.
Ia menilai kemampuan sebuah negara dalam memproduksi kebutuhan strategis, menguasai energi, dan mengembangkan teknologi merupakan faktor utama yang menentukan ketahanan ekonomi jangka panjang.
Karena itu, di tengah perubahan tatanan ekonomi global saat ini, Indonesia didorong untuk mempercepat penguatan fondasi ekonomi nasional agar mampu berdiri lebih mandiri dan tidak mudah terpengaruh oleh gejolak dunia.