nasional

Chatib Basri Ungkap Penyebab Rupiah Terus Melemah, Soroti Menurunnya Kepercayaan Investor terhadap Fiskal RI

Rabu, 10 Juni 2026 | 09:29 WIB
Menyoroti penuturan eks Menkeu periode 2013-2014, Chatib Basri terkait pelemahan nilai tukar rupiah bagi Indonesia. (Instagram.com/@chatibbasri)

TITIKTEMU.CO - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian publik dan pelaku usaha di Indonesia. Kondisi tersebut dinilai tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga berkaitan erat dengan tingkat kepercayaan investor terhadap kondisi fiskal nasional.

Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan RI periode 2013–2014, Chatib Basri, menilai persoalan utama yang saat ini dihadapi Indonesia adalah menurunnya kepercayaan pasar terhadap pengelolaan fiskal pemerintah.

Menurut Chatib, kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal berdampak langsung terhadap pergerakan rupiah. Situasi ini juga menimbulkan tantangan bagi sektor swasta yang harus menghadapi kenaikan biaya operasional di tengah daya beli masyarakat yang masih rentan.

Sejumlah perusahaan bahkan disebut memilih menyerap kenaikan biaya produksi dengan mengurangi margin keuntungan demi menjaga harga jual. Langkah tersebut berpotensi menekan pertumbuhan korporasi pada paruh kedua tahun 2026.

Baca Juga: Pemulangan Jamaah Haji 2026 Masih Berlangsung, Menhaj Pastikan Layanan Tetap Berjalan hingga Kloter Terakhir

Risiko Fiskal Dinilai Berpengaruh terhadap Rupiah

Dalam pemaparannya di Jakarta, Selasa (9/6/2026), Chatib Basri menjelaskan bahwa analisis yang dilakukan menunjukkan adanya hubungan kuat antara pelemahan rupiah dan meningkatnya risiko fiskal Indonesia.

Indikator yang digunakan adalah Credit Default Swap (CDS), yakni instrumen yang mengukur biaya perlindungan terhadap risiko gagal bayar surat utang negara.

Berdasarkan hasil analisis tersebut, sekitar 23 persen variasi pelemahan rupiah dapat dijelaskan oleh perubahan CDS Indonesia. Sebaliknya, pergerakan nilai tukar rupiah hanya memberikan kontribusi sekitar 2,3 persen terhadap perubahan CDS.

Temuan itu menunjukkan bahwa persepsi pasar terhadap risiko fiskal memiliki pengaruh lebih besar terhadap nilai tukar dibandingkan arah pergerakan rupiah itu sendiri.

Baca Juga: Panduan Liburan 4 Hari di Vancouver Saat Piala Dunia 2026, Lengkap dengan Rute dan Transportasi

Pelemahan Sudah Terjadi Sebelum Konflik Timur Tengah Memanas

Chatib mengungkapkan bahwa indikator CDS Indonesia mulai menunjukkan tren memburuk sejak Januari 2026, jauh sebelum pecahnya konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Menurutnya, kondisi tersebut bertepatan dengan munculnya kekhawatiran pasar terkait prospek fiskal Indonesia, termasuk setelah lembaga pemeringkat Moody’s mengubah outlook serta meningkatnya perhatian terhadap defisit anggaran yang mendekati batas 3 persen.

Halaman:

Tags

Terkini