Sebelumnya, pada 14 April 2026, ia justru melepas total 8.189.500 saham SIMP dalam dua transaksi — pertama sebanyak 1.377.000 saham di harga Rp 925, lalu 6.812.000 saham di harga Rp 920. Total nilai penjualan kala itu mencapai Rp 7,54 miliar, dengan tujuan merealisasikan keuntungan.
Namun kini ia balik badan. Lo Kheng Hong masuk lagi dengan membeli 793.640.400 saham SIMP atau setara 5,12% kepemilikan.
Harga pembelian belum diungkapkan secara resmi, tapi gerakannya ini cukup mengejutkan pasar — apalagi dilakukan saat harga SIMP jauh di bawah level penjualannya dulu.
Baca Juga: OJK Sebut Gen Z Paling Berani Ambil Risiko, Investasi Kripto Lebih Untung dari Emas?
Pada penutupan 22 Mei 2026, saham SIMP menguat signifikan 4,67% ke Rp 560 per saham.
Saham ini sempat menyentuh level terendah Rp 520 dan tertinggi Rp 565 dalam sehari, dengan nilai transaksi mencapai Rp 13 miliar — cukup ramai untuk ukuran saham mid-cap.
Beli di Saat Orang Lain Takut
Pola investasi Lo Kheng Hong sebenarnya konsisten sejak lama: beli saat harga tertekan, tahan lama, realisasikan untung di puncak, lalu masuk lagi saat harga turun.
Sebelum membeli GJTL dan SIMP, ia juga tercatat mengoleksi saham PT Intiland Development Tbk (DILD) sebanyak 15.179.600 lembar di harga Rp 129 per saham pada 4 Mei 2026 — murni untuk tujuan investasi jangka panjang.
Bagi investor ritel, pergerakan Lo Kheng Hong kerap jadi sinyal tidak resmi bahwa ada nilai tersembunyi di balik saham-saham yang sedang diabaikan pasar. Bukan berarti harus ikut-ikutan, tapi paling tidak — layak untuk diteliti lebih dalam.
Pasar memang sedang tidak baik-baik saja. Tapi bagi investor berpengalaman seperti Lo Kheng Hong, justru di situlah kesempatan emas itu bersembunyi.***