TITIKTEMU.CO-Menjadi orang tua di era digital seperti sekarang ini rasanya seperti sedang mengikuti ujian tebak-tebakan yang tidak pernah ada habisnya.
Baru saja kita merasa nyaman dan memahami formula dasar cara menenangkan anak yang sedang tantrum, tiba-tiba media sosial menyodorkan sebuah istilah baru yang terdengar sangat ilmiah sekaligus mengintimidasi.
Ada gentle parenting, helicopter parenting, hingga tren terbaru yang terdengar santai namun sarkastik seperti gaya asuh FAFO atau find out yang belakangan berseliweran di lini masa kita.
Semua istilah ini datang dengan janji manis yang sama, yaitu formula ajaib untuk mencetak anak yang sempurna, sukses, dan bebas dari trauma masa kecil.
Namun, mari kita jujur pada diri sendiri sejenak di tengah kepungan informasi yang begitu masif ini.
Alih-alih merasa terbantu dan tercerahkan, ribuan artikel dan konten video tentang berbagai "isme" dalam dunia pengasuhan ini justru sering kali meninggalkan rasa bersalah yang mendalam di dada para ibu dan ayah.
Setiap kali kita tidak sengaja menaikkan nada bicara karena kelelahan setelah seharian bekerja, bayang-bayang label sebagai orang tua yang gagal langsung muncul menghantui pikiran.
Kita seolah-olah dipaksa untuk mengenakan sebuah jaket label yang ukurannya sama sekali tidak pas dengan bentuk tubuh dan kondisi unik keluarga kita sendiri.
Bahaya terbesar dari tren pelabelan gaya asuh ini adalah hilangnya intuisi alami yang sebenarnya sudah ada di dalam diri setiap orang tua sejak anak dilahirkan.
Saat kita terlalu sibuk mencocokkan tindakan kita dengan buku panduan atau teori gentle parenting yang kaku, kita justru kehilangan momen krusial untuk benar-benar melihat dan mendengarkan apa yang sebetulnya dibutuhkan oleh anak pada detik itu juga.
Anak-anak kita bukanlah robot yang bisa diprogram dengan algoritma tertentu, dan mereka juga tidak membaca buku teks psikologi perkembangan sebelum mereka menangis di lantai pusat perbelanjaan.
Mengasuh anak dengan mata yang terus-menerus melirik ke arah teori luar justru membuat hubungan emosional antara orang tua dan anak terasa sangat mekanis, hambar, dan kehilangan kehangatan aslinya.