Cinta Laura tidak menyebut nama siapa pun dalam kritiknya.
Namun pesannya jelas: jika mampu secara finansial, sebaiknya memberi ruang bagi yang lebih membutuhkan.
Baginya, beasiswa bukan sekadar soal prestasi, tetapi juga tentang empati.
Tentang membuka jalan bagi generasi yang terhalang oleh kondisi ekonomi.
Di tengah riuhnya media sosial, pernyataan Cinta kembali menjadi refleksi bersama.
Bukan untuk menyerang individu, tetapi untuk menata ulang cara pandang tentang akses pendidikan dan keadilan sosial.
Karena pada akhirnya, beasiswa bukan sekadar tiket kuliah ke luar negeri.
Ia adalah harapan.
Dan harapan, seharusnya jatuh ke tangan yang paling membutuhkannya.***