Menurutnya, esensi puasa—baik dalam Ramadan maupun masa Prapaskah—adalah pengendalian diri dan peningkatan empati terhadap sesama.
Ia menegaskan bahwa momentum ini dapat menjadi sarana mempererat Ukhuwah Wathaniyah atau persaudaraan kebangsaan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Fenomena 2026 pun menjadi pengingat bahwa harmoni dalam perbedaan bukan sekadar slogan, melainkan realitas yang dapat dirasakan bersama.***