Dalam keterangannya, KSAL menyebutkan bahwa empat anggota Marinir telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Sementara itu, puluhan lainnya masih dalam pencarian.
“Yang sudah ditemukan baru empat personel dalam keadaan gugur.
Sisanya masih terus dicari,” jelasnya.
Proses evakuasi pun masih berlangsung hingga kini, dengan kondisi lapangan yang sangat menantang.
Ali menjelaskan, keberadaan para Marinir di Cisarua bukan tanpa alasan.
Mereka tengah mengikuti latihan pratugas sebagai persiapan pengamanan perbatasan Republik Indonesia–Papua Nugini (RI–PNG).
“Latihan itu memang dilaksanakan di wilayah tersebut sebagai bagian dari persiapan tugas,” katanya.
Latihan tersebut seharusnya menjadi bagian dari penguatan kesiapan prajurit, namun berubah menjadi tragedi akibat bencana alam.
Evakuasi Terkendala Cuaca dan Akses
Hingga saat ini, proses pencarian masih menghadapi berbagai hambatan.
Cuaca buruk dan akses jalan yang sempit membuat alat berat belum bisa menjangkau lokasi longsor.
“Alat berat belum dapat masuk karena cuaca dan kondisi jalan,” ujar Ali.
Sebagai alternatif, TNI AL mengerahkan teknologi pencarian seperti drone, kamera thermal, serta anjing pelacak untuk membantu menemukan para korban yang masih tertimbun.
Harapan di Tengah Upaya Tanpa Henti
Meski kondisi medan berat, KSAL menegaskan bahwa pencarian tidak akan dihentikan.
Seluruh sumber daya terus dikerahkan demi menemukan para prajurit yang masih belum diketahui keberadaannya.