nasional

Kesaksian Pilu Korban Banjir Bandang Aceh Tamiang: Bertahan di Atas Kayu dan Minum Air Lumpur Demi Hidup

Selasa, 23 Desember 2025 | 21:54 WIB
Tangkapan layar seorang warga Kota Lintang Bawah, Aceh yang bercerita kondisi mencekam saat banjir bandang menerjang desanya. (TikTok/PAPAY_YA)

TITIKTEMU.CO - Di balik rumah-rumah yang lenyap terseret arus banjir bandang, tersimpan kisah perjuangan manusia yang berusaha bertahan hidup di situasi paling genting. Cerita menyayat hati ini terungkap melalui tayangan video di kanal YouTube @PAPAY_YA yang diunggah pada Senin, 22 Desember 2025.

Seorang warga Kota Lintang Bawah membagikan pengalaman mengerikan saat banjir besar datang secara tiba-tiba dan meluluhlantakkan permukiman mereka. Ketika air naik dengan cepat dan menghancurkan segalanya, warga tak lagi memikirkan harta benda—yang terpenting hanyalah menemukan tempat lebih tinggi agar bisa selamat.

Kota Lintang Bawah Jadi Titik Terparah

Seorang perempuan yang berada di lokasi menyebut kondisi di Kota Lintang Bawah sebagai salah satu yang paling parah terdampak banjir bandang.

Baca Juga: Miris! Warga Desa Sekumur Aceh Tamiang Terpaksa Gunakan Air Sisa Banjir untuk Memasak

“Yang paling parah itu di Kota Lintang Bawah,” ungkapnya dengan suara bergetar.

Situasi semakin mencekam ketika malam tiba. Banyak warga terpaksa bertahan hidup dengan cara ekstrem, termasuk berbaring di atas kayu balok yang hanyut di tengah genangan air.

“Ada yang tidur di atas kayu di atas air,” tuturnya menggambarkan kondisi malam penuh ketakutan dan keputusasaan.

Jeritan Minta Tolong di Tengah Malam

Suasana malam pascabanjir dipenuhi suara tangisan dan teriakan warga yang masih terjebak di rumah-rumah mereka.

Baca Juga: Raffi Ahmad dan Film TIMUR Salurkan Hasil Tiket untuk Korban Bencana Sumatera, Wujud Nyata Kepedulian Perfilman Indonesia

“Waktu malam banyak orang teriak minta tolong, semuanya menangis,” katanya mengenang momen traumatis tersebut.

Ketika air mulai surut, penderitaan belum juga berakhir. Bantuan logistik belum datang, memaksa warga bertahan dengan apa pun yang tersedia, termasuk air banjir yang tercemar.

“Kami minum air lumpur, kami endapkan dulu,” ujarnya menggambarkan kondisi darurat saat mengungsi.

Halaman:

Tags

Terkini