Ia menilai kebijakan fiskal di masa Sri Mulyani Indrawati, pendahulu Purbaya, justru meninggalkan beban berat bagi keuangan negara.
“Hasilnya apa? Utang naik dari Rp8.000 triliun jadi Rp24.000 triliun. Cicilan naik empat kali lipat, bunga naik sampai 7 persen,” tegas Said Didu.
Baca Juga: Prabowo Soroti Penyelundupan Narkoba Lewat Laut, Ungkap Modus Kapal Selam hingga Pelabuhan Tikus
Soroti Transparansi dan Arah Kebijakan Baru
Lebih lanjut, Said Didu mengungkap bahwa total utang riil Indonesia bisa jauh lebih besar jika memperhitungkan kewajiban lain seperti utang BUMN dan dana pensiun, yang bisa mencapai Rp24.000 triliun.
“Inilah yang saya sebut kotak pandora mulai terbuka oleh Purbaya,” ucapnya.
Ia menilai, gaya komunikasi Purbaya yang terbuka dan netral dapat menjadi awal dari transparansi baru dalam kebijakan fiskal nasional, sekaligus membuka jalan bagi perbaikan tata kelola keuangan negara di bawah pemerintahan saat ini.***