nasional

Utang Raksasa Kereta Cepat Whoosh Jadi Sorotan: Kontrak Gelap, Bunga Tinggi, Jalan Keluar Buntu?

Minggu, 26 Oktober 2025 | 17:15 WIB
Isu utang besar proyek kereta cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh kembali mencuat dan memicu diskusi panas (Instagram/keretacepat_id)

Biaya pembangunan proyek ini mengalami pembengkakan atau cost overrun hingga 1,2 miliar dolar AS (sekitar Rp19,9 triliun), sehingga total investasi melonjak tajam melebihi Rp120 triliun.

Untuk menutup kekurangan tersebut, pemerintah dan BUMN terpaksa kembali mencari pinjaman baru dari CDB dengan bunga yang bahkan lebih tinggi, mencapai 3 persen.

Saat ini, PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang menjadi pemimpin konsorsium BUMN disebut menanggung beban utang sekitar Rp6,9 triliun kepada CDB.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak lagi boleh digunakan untuk menutup kewajiban utang Whoosh.

Baca Juga: Drama Aset Sandra Dewi: Antara Endorsement, Cinta, dan Jejak Korupsi Timah

Restrukturisasi Jadi Jalan Keluar

Dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2025, Danantara memasukkan restrukturisasi utang Whoosh sebagai salah satu program strategis.

Opsi yang ditawarkan meliputi penambahan modal hingga penyerahan sebagian aset proyek menjadi Badan Layanan Umum (BLU).

Luhut Binsar Pandjaitan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), menyebut langkah tersebut sebagai solusi paling realistis saat ini.

Ia bahkan mengakui proyek ini sejak awal sudah bermasalah.

“Waktu saya masuk, kondisinya memang sudah kacau. Lalu kita audit, kita benahi, dan kita negosiasi ulang dengan China,” ujar Luhut dalam acara “1 Tahun Prabowo–Gibran” pada 18 Oktober 2025.

Menurutnya, pemerintah kini hanya menunggu Keputusan Presiden (Keppres) agar tim restrukturisasi bisa segera bergerak.

“China setuju restrukturisasi. Tinggal tunggu Keppres supaya bisa dirundingkan,” tegasnya. Ia juga memastikan tidak ada penggunaan APBN dalam proses ini.

Baca Juga: Duel Argumen Purbaya vs Dedi Mulyadi yang Bikin Publik Melek Anggaran

Dibanding Proyek Saudi Land Bridge, Siapa Lebih Rasional?

Halaman:

Tags

Terkini