- Lansia
- Ibu hamil
- Anak-anak
- Pekerja lapangan yang terpapar matahari setiap hari
Baca Juga: Purbaya Siapkan Langkah Besar Berantas Mafia Penyelundupan, Apa Saja?
Menurut Guswanto, tubuh yang tidak terbiasa menghadapi suhu tinggi bisa mengalami heat exhaustion (kelelahan akibat panas) hingga pingsan.
Kondisi ini bisa memburuk jika tidak mendapatkan penanganan segera.
“Kalau orang yang kesehariannya di ruangan ber-AC lalu tiba-tiba beraktivitas lama di luar ruangan saat panas ekstrem, tubuhnya bisa kaget.
Bagi pekerja seperti ojek online, kuli bangunan, petani, atau nelayan, wajib membawa penutup kepala dan minum yang cukup agar tidak dehidrasi,” jelasnya.
Baca Juga: Pertamina Segera Umumkan Kerja Sama Impor BBM dengan SPBU Swasta, Keputusan Diumumkan Malam Ini
Penyebab Cuaca Panas: Bukan Sekadar "Musim Kemarau"
Lalu, apa yang sebenarnya menyebabkan suhu udara belakangan ini terasa lebih menyengat? BMKG menjelaskan ada dua faktor utama.
Pertama, gerak semu matahari. Pada bulan Oktober, posisi matahari berada di selatan garis khatulistiwa sehingga wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan—seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, hingga Papua—menerima radiasi matahari yang lebih kuat.
Kedua, pengaruh Monsun Australia.
Angin kering dari arah Australia bergerak ke wilayah Indonesia dan membawa massa udara panas.
Akibatnya, pembentukan awan menurun dan langit lebih cerah, sehingga sinar matahari langsung menyentuh permukaan bumi tanpa banyak hambatan.
“Kombinasi kedua faktor itu menyebabkan kenaikan suhu udara hingga 37,6°C di beberapa wilayah,” ujar Guswanto.
Meski fenomena panas ekstrem ini masih dalam batas klimatologis normal, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada.
Lindungi diri saat beraktivitas di luar rumah, gunakan tabir surya jika perlu, dan perbanyak konsumsi air putih.