Baca Juga: Malam Para Jahanam, Teror Roh Gentayangan Semasa Pemberontakan G30 S PKI
Akhir Hidup di Boyolali
Menariknya, warga setempat tidak menyadari keberadaan tokoh besar itu di lingkungan mereka. Menurut kesaksian, rumah yang ditempati Aidit dikontrak oleh seseorang. Namun, warga tak pernah tahu kapan Aidit datang atau berapa lama ia tinggal di sana.
Setelah ditangkap, Aidit rencananya dibawa Kolonel Jasir Hadibroto menuju markas Kodam Diponegoro di Semarang. Namun, perjalanan itu tidak pernah sampai ke tujuan.
Menurut catatan Benny G. Setiono dalam buku Tionghoa dalam Pusaran Politik (2008), pada 25 November 1965, mobil yang membawa Aidit justru berbelok ke sebuah desa terpencil di Boyolali.
Baca Juga: Mengenal dan mengenang Sejarah Peristiwa G30S PKI. Ini Sejumlah Fakta Pentingnya
Di tepi sebuah sumur tua, Aidit diberi kesempatan menyampaikan pesan terakhir. Namun alih-alih singkat, dia justru berpidato panjang penuh semangat, membuat pasukan yang mengawalnya murka.
Tanpa ampun, tembakan dilepaskan. Peluru menembus dada Aidit hingga tubuhnya tersungkur jatuh ke dasar sumur. Eksekusi terjadi pada 24 November 1965, menutup perburuan panjang terhadap tokoh penting PKI.
Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 15.00 WIB, Kolonel Jasir melaporkan langsung kepada Mayor Jenderal Soeharto di Gedung Agung, Yogyakarta. Dia menyampaikan bahwa Aidit sudah dibereskan sesuai perintah.
Baca Juga: Tragedi G30S/PKI, Kisah Penculikan dan Pembunuhan 7 Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya
Mesteri Makam Aidit
Sambil ragu, Jasir menanyakan apakah tindakan itu sesuai maksud Soeharto. Sang jenderal hanya menjawab dengan senyum.
Sejak saat itu, lokasi jasad Aidit menjadi teka-teki besar. Meski ada dugaan dia dimakamkan di sekitar sumur tua di Boyolali, hingga kini tidak pernah ditemukan bukti pasti keberadaan kuburannya.
Kematian Aidit menandai runtuhnya gerakan PKI di Indonesia. Nasib partai itu tidak jauh berbeda dengan pemimpinnya: diberangus habis beserta para anggotanya.
Hingga kini, eksekusi Aidit masih menjadi salah satu episode paling gelap sekaligus penuh misteri dalam sejarah politik Indonesia.***