“Kalau ada 30 juta penerima, kita tidak boleh main-main. Semua dapur wajib pakai SOP modern, alat cuci harus higienis, dan dapur harus punya test kit,” tegasnya.
Baca Juga: Kantin Sekolah Disulap Jadi Dapur MBG: Usulan DPR untuk Atasi Kasus Keracunan Massal
Usulan DPR: Kantin Sekolah Jadi Dapur MBG
Di parlemen, wacana baru muncul. Ketua Banggar DPR, Said Abdullah, menilai beban SPPG terlalu berat dengan target 3 ribu porsi per hari.
Ia mengusulkan kantin sekolah direhabilitasi jadi dapur MBG lokal.
Dengan cara ini, distribusi makanan lebih singkat, kualitas lebih terjaga, dan risiko kontaminasi bisa ditekan.
"Kalau dipecah ke sekolah masing-masing, lebih ringan dan lebih aman,” kata Said.
Tantangan Teknis di Lapangan
Namun, tantangan teknis tidak bisa diabaikan. Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengungkapkan beberapa penyebab utama keracunan:
Proses memasak dilakukan terlalu awal sehingga makanan terlalu lama disimpan.
Perubahan pemasok bahan baku secara mendadak yang memengaruhi kualitas makanan.
BGN kini menetapkan aturan lebih ketat, termasuk membatasi waktu antara proses memasak dan distribusi maksimal 4 jam.
Jalan Panjang Menjaga Kepercayaan Publik
Evaluasi menyeluruh terhadap program MBG memang penuh tantangan. Namun publik sepakat: lebih baik program ditata ulang daripada membahayakan anak-anak penerima manfaat.
Dengan langkah perbaikan mulai dari dapur, standar sanitasi, hingga distribusi, harapannya MBG bisa kembali berjalan aman, efisien, dan benar-benar membawa manfaat nyata bagi generasi muda Indonesia.***