“Bayangkan delapan hari di Portopalo hanya menunggu sesuatu yang tak pasti, lalu berminggu-minggu di Sidi Bou Said, tidur di pelabuhan beralaskan sleeping bag,” ungkap Wanda.
Ia menyaksikan sendiri bagaimana semangat aktivis kemanusiaan diuji oleh situasi ini.
Meski begitu, ia yakin mereka semua telah berusaha maksimal untuk menjalankan misi kemanusiaan di Gaza.
Baca Juga: 8 Cara Tukar Satoshi Bitcoin ke Dana dengan Aman dan Legal
Solidaritas yang Tak Tergantikan
Di balik ujian itu, Wanda belajar banyak tentang empati, simpati, dan solidaritas.
“Kami berbagi makanan, minuman, kesedihan, kebahagiaan, susah senang bersama, bersatu untuk Palestina,” tuturnya penuh haru.
Kebersamaan itu menjadi bukti bahwa misi kemanusiaan bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin yang memperkuat rasa kemanusiaan.
Harapan Baru Menuju Gaza
Beruntung, Wanda menjadi salah satu yang dapat melanjutkan perjalanan dengan kapal tambahan.
Ia menyampaikan bahwa pada 26 September, ia bersama sejumlah aktivis lainnya akan kembali berlayar menuju Yunani sebagai titik transit sebelum melanjutkan ke Gaza.
Meskipun perjalanan ini penuh tantangan, semangat untuk membantu rakyat Palestina tetap menyala.***