TITIKTEMU.CO - Ketidakpastian kebijakan perdagangan kini menjadi sinyal bahaya yang menggema di panggung ekonomi internasional.
Konflik dagang antara Amerika Serikat dan China tak hanya memanas di meja negosiasi, tetapi juga merambat hingga ke sentimen pasar dunia.
Indonesia pun tak tinggal diam.
Pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto kini mengincar pasar global sebagai langkah strategis memperkuat pertumbuhan perdagangan dan investasi nasional.
Upaya ini diharapkan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi negeri.
Di sektor perdagangan, Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah menyiapkan target ekspor 2025–2029.
Tiga strategi andalan tengah digulirkan: mendorong ekspor UKM, memperluas perjanjian dagang dan kemitraan ekonomi komprehensif, serta menguatkan penetrasi pasar melalui perwakilan dagang RI di berbagai negara.
Baca Juga: Skandal Kuota Haji 2024: Jejak Kasus Miliaran Rupiah, Saksi Ormas, dan Uang Percepatan
AS-China Memanas: Tantangan yang Jadi Peluang
Ketegangan global akibat perang dagang AS dan China memicu kecemasan publik tentang masa depan ekonomi.
Namun, di balik ancaman itu, terselip peluang yang bisa dimanfaatkan Indonesia.
Sandiaga Uno, mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, pernah mengingatkan soal hal ini.
“Tarif dagang era Trump naik, tensi antara Amerika dan China semakin panas.
Tapi justru di tengah konflik ini ada peluang yang bisa dimanfaatkan Indonesia,” ungkapnya di Instagram @sandiuno pada 17 April 2025.