Masalahnya, joki Strava membuat nilai olahraga lari jadi semu.
Lari seharusnya soal pencapaian pribadi, kerja keras, dan konsistensi.
Saat seseorang meminta orang lain berlari demi dirinya, esensi itu hilang.
Lebih buruk lagi, papan peringkat dan rekor pribadi jadi tidak mencerminkan kemampuan asli, merugikan pelari yang berusaha dengan jujur.
Contoh Nyata dari Indonesia
Tren ini ternyata sudah sampai ke Indonesia.
Salah satunya dilakukan oleh remaja 17 tahun berinisial “S” yang mematok tarif unik: Rp10.000 per kilometer untuk pace 4:00 menit/km, dan Rp5.000 per kilometer untuk pace 8:00 menit/km.
Pekerjaan terbesarnya bahkan menghasilkan sekitar Rp100.000—lebih dari 5 persen UMR bulanan di Indonesia.
Fenomena yang Menyebar Global
Meski sekarang ramai dibicarakan di Indonesia, joki Strava sebenarnya bukan fenomena lokal.
Di berbagai negara, dorongan mendapatkan validasi di media sosial mendorong tren ini untuk terus berkembang.
Pertanyaannya, apakah ini akan menjadi bagian dari “budaya lari” baru atau sekadar tren musiman yang segera pudar?
joki Strava, fenomena Strava, tren olahraga digital, aplikasi Strava, lari online***