TIKTIKTEMU.CO - Dalam beberapa tahun terakhir, sound horeg menjadi bagian dari warna hiburan lokal di berbagai daerah Indonesia.
Identik dengan speaker raksasa dan dentuman musik keras, acara ini kerap menarik perhatian warga dari berbagai kalangan.
Tak hanya mengandalkan audio, panggung sound horeg juga sering disertai dengan permainan lampu warna-warni dan efek visual mencolok, menambah semarak suasana.
Baca Juga: Jakarta Lebih Lancar dari New York? Ini Klaim Gubernur Pramono dan Fakta Transportasi Terbarunya
Kesenangan vs Keresahan: Suara Bising yang Mengusik
Di balik meriahnya suasana, tak sedikit warga yang mulai merasa terganggu oleh kebisingan dari acara sound horeg.
Volume suara yang tinggi dinilai mengancam ketenangan lingkungan dan bahkan bisa berdampak negatif pada kesehatan pendengaran.
Hal ini memicu perdebatan antara pihak yang ingin melestarikan budaya hiburan rakyat dan mereka yang menuntut ruang hidup yang lebih nyaman dan tenang.
Pendapat Dokter THT: Waspadai Dampak Paparan Suara Ekstrem
Menanggapi hal ini, dr. Fikri Mirzaputranto, Spesialis THT dari Rumah Sakit Universitas Indonesia, mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga jarak aman dari sumber suara yang sangat keras.
Dalam wawancaranya di program Catatan Demokrasi yang tayang di kanal YouTube tvOneNews (22 Juli 2025), ia menekankan bahwa semakin jauh posisi seseorang dari speaker, semakin kecil risiko gangguan pendengaran.
Dengan tingkat kebisingan yang bisa mencapai 130 desibel (dB)—angka yang jauh melebihi ambang aman untuk telinga manusia—dr. Fikri menyarankan agar masyarakat menjaga jarak hingga 2 kilometer dari sumber suara sound horeg.
Baca Juga: Pakar Hukum Kritik Arah Politik Tom Lembong, Singgung Perbandingan dengan Menko Zulhas