Dalam sambutannya, Bahlil juga mengungkap betapa pentingnya peran Presiden Prabowo dalam memecah kebuntuan proyek yang sempat lama mandek.
Menurut Bahlil, proyek bernilai investasi Rp95,43 triliun ini sempat “mengambang” selama lebih dari tiga tahun tanpa keputusan yang jelas.
“Proyek ini sudah kami kerjakan selama 4 tahun, saya bersama Pak Erick, Pak Tiko, dan Danantara. Negosiasinya benar-benar alot,” jelas Bahlil.
Ia melanjutkan, titik balik terjadi setelah Presiden Prabowo memberikan arahan tegas dalam rapat terbatas pada April lalu.
“Berkat arahan Presiden pada rapat tersebut, akhirnya diputuskan untuk langsung dijalankan,” ungkapnya.
Baca Juga: Viral Memo Titip Siswa SPMB 2025,Wakil Ketua DPRD Banten: Hanya Mengabulkan Permintaan Staf
Lokasi Proyek di Karawang dan Halmahera Timur
Proyek baterai listrik terintegrasi ini akan dibangun di dua lokasi utama. Di Karawang, Jawa Barat—yang saat ini sudah memulai groundbreaking—dan di Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara.
Dengan pengembangan di dua lokasi ini, pemerintah menargetkan terwujudnya ekosistem industri baterai yang lebih terintegrasi dan kompetitif di Indonesia.
Harapan Besar untuk Industri Energi Terbarukan
Dengan dimulainya pembangunan tahap awal di Karawang, proyek ini diharapkan menjadi fondasi penting bagi pengembangan industri baterai listrik nasional.
Investasi besar ini tidak hanya mendorong hilirisasi mineral, tapi juga membuka peluang lapangan kerja, menarik investor global, dan mendukung transisi energi bersih di Indonesia.***