Di tengah percakapan itu, cuaca Jeddah yang terik mulai terasa. Mbah Sumbuk tampak kehausan dan meminta air. “Aku pan ngombe, Le,” pintanya pelan. Petugas segera membantu memberinya air dan memastikan ia nyaman.
Untuk perjalanan menuju Makkah, Mbah Sumbuk disiapkan bus khusus yang dilengkapi lift hidrolik. Kursi rodanya langsung diangkat ke dalam bus tanpa perlu dipindahkan, memastikan kenyamanan dan keselamatannya. Semuanya dilakukan dengan penuh kehormatan—layaknya tamu agung yang ditunggu-tunggu.
Mbah Sumbuk bukan sekadar jemaah sepuh. Ia adalah simbol dari kekuatan niat, panjangnya harapan, dan dalamnya cinta kepada Allah. Di usia yang senja, ia datang memenuhi panggilan suci dengan jiwa yang utuh dan hati yang bersih.